Manusia Pilihan yang Namanya Jarang Terdengar
“Sudah sampai mana, Mas?” tanya beliau ketika aku berada di kereta dalam perjalanan menuju kota Den Haag, melalui sambungan telepon aplikasi Whatsapp.
“Baru saja lewat Rotterdam Central Pak, bagaimana?”
“Nanti turun saja di satu stasiun sebelum Den Haag Central ya, saya jemput di sana!”
“Nggih Pak, siap.”
Aku turun di stasiun bernama Den Haag HS, sebuah stasiun dengan gaya khas klasik bangunan Eropa. Unik dan menarik. Dengan pintu luar stasiun yang langsung menyambung dengan halte bus dan tram, aku berpikir beliau akan menjemput dengan menggunakan bus atau tram. Tapi ternyata dugaanku salah.
Kring … kring … kring …
Bunyi bel sepeda dan sapaan hangat beliau mengagetkanku, saat asyik melihat serta terkagum-kagum dengan salah satu kota di Belanda, yang banyak sekali kaitannya dengan negeri tercinta Indonesia ini.
“Wah, saya kira panjenengan naik bus atau tram, Pak.”
“Ayo cepat naik, nanti keburu masjid penuh. Pandemi seperti ini dibatasi jumlah jamaahnya.” ujar beliau sambil mengeluarkan sebuah bantalan, kemudian dipasang di belakang jok sepeda.
“Lho, saya saja yang bonceng, Pak.”
“Sudah naik saja!” perintah beliau.
Sepanjang perjalanan menuju masjid, kami ngobrol banyak, ngalor dan ngidul. Aku mengenal beliau ketika memperpanjang paspor istri beberapa waktu lalu. Saat itu beliau menyapa kami, ramah sekali.
Di tengah waktu yang singkat, aku paham beliau adalah seorang pekerja yang datang di Belanda. Dengan pernah menjadi Tenaga Kerja Indonesia di Taiwan, obrolan kami menjadi semakin nyambung.
“Bagaimana ceritanya bisa ke Belanda, Pak?”
“Wah panjang, Mas. Sampeyan mau mendengarkan?”
“Dengan senang hati, Pak!” sahutku antusias. Aku memang orang yang kepo.
Beliau menginjakkan kaki di Belanda tahun 2014, dengan menggunakan visa turis. Aku sudah memahami status beliau sebagai pekerja tidak resmi sejak pertemuan pertama lalu. Namun rasa penasaranku yang besar, membuat pertanyaan mudah meluncur begitu saja dari lidah ini.
Kenapa?
Bagaimana?
Kok bisa, ya?
“Kami datang tujuh orang Mas, semuanya tidak resmi. Awal datang hanya ditampung tiga malam saja di rumah orang yang menjadi sponsor kami. Setelah itu ya benar-benar dilepas.”
“Tapi Bapak dan teman-teman tahu jika akan bekerja secara tidak resmi?”
“Tahu Mas, untuk itu kita sudah menyiapkan uang banyak untuk jaga-jaga bertahan di sini hingga dapat pekerjaan.”
“Berapa dulu modalnya, Pak?” tanyaku dengan rasa penasaran makin besar.
“150 juta, Mas.”
Keningku langsung berkerut. Seumur-umur, saldo rekeningku bahkan tidak pernah menyentuh angka itu.
“Hutang numpuk Mas, saya kepikiran keluarga di rumah.” ucap beliau dengan suara parau.
Sejak mendengar kalimat itu, aku langsung terdiam. Sepertinya rasa ingin tahuku sudah melewati batas. Namun sebaliknya, beliau tampak semakin antusias bercerita. Mengalir begitu saja semua dari lisan beliau.
Aku mendengarkan baik-baik dan berusaha tetap menjaga konsentrasi, dengan tangan masuk ke kantong jaket, untuk menahan suhu sekitar enam derajat siang ini.
Dalam waktu satu tahun berada di Belanda, hutang beliau akhirnya mampu dilunasi. Bekerja siang dan malam seperti kesetanan. Apa saja beliau lakukan, selama itu pekerjaan halal.
Bersih-bersih dari rumah ke rumah orang-orang Belanda, bekerja di rumah makan, sampai jika ada orang Indonesia membutuhkan jasa, beliau sigap membantu. Benar-benar semua pekerjaan dilahap.
Waktu perjalanan 20 menit dari stasiun Den Haag HS menuju masjid Al Hikmah menggunakan sepeda terasa cepat. Kami tiba di masjid milik orang dan bangsa Indonesia!
Beliau mengenalkanku dengan orang-orang Indonesia yang berada di dalamnya. Benar-benar tidak seperti di Belanda, ketika memasuki bangunan dengan dua lantai tersebut. Suasananya sangat Indonesia sekali.
Aku berkenalan dan saling menyapa banyak orang hebat di tempat tersebut. Mulai dari orang yang sudah puluhan tahun tinggal di Belanda, pemilik restoran Indonesia di Belanda, hingga pejabat-pejabat KBRI Belanda. Semuanya baik, semuanya ramah.
Satu jam setengah tidak terasa, aku telah berada di masjid yang diwakafkan oleh pengusaha Indonesia, Bapak Probosutedjo. Bangunan yang awalnya gereja bernama Immanuel tersebut diwakafkan beliau untuk umat Islam sejak tahun 1996. Semoga pahala kebaikan senantiasa mengalir untuk beliau dan keluarga.
“Pak, ke KBRI gantian saya yang bonceng, ya? Tadi kan kita buru-buru ke masjidnya, sekarang agak santai.”
“Sudah tho Mas, sampeyan ini kan tamu. Dosa kalau saya tidak memuliakan tamu.”
Adab dan akhlak. Aku menemukan akhlak yang indah dan keikhlasan terpancar jelas dari Bapak ini. Auranya meneduhkan. Pantas jika ketika di masjid tadi, bahkan pejabat-pejabat yang mungkin dipandang memiliki status lebih baik dan tinggi, bisa nampak akrab dengan beliau.
Aku paham dari cara gaya bicara beliau, kalimat-kalimat yang meluncur bukanlah kata-kata yang terstruktur dengan baik dan indah, layaknya kata-kata yang biasa keluar dari sosok akademisi, orang pendidikan. Pengalaman berkumpul dengan banyak orang dengan segala latar belakang, membuatku memahami hal itu.
Namun tunggu dulu, jangan salah. Kalimat-kalimat sederhana dengan kata-kata tak terstruktur dari beliau justru sangat masuk di telinga orang yang fakir dan miskin ilmu sepertiku. Ringan dan sederhana, tapi benar-benar sarat ilmu dan hikmah. Tanda bahwa yang mengeluarkan kata-kata itu sangat kenyang pahit getirnya kehidupan, tertempa dengan segala ujian hidup.
Benar saja, dalam perjalanan menuju kantor KBRI Den Haag, Belanda, aku seperti mendapat sebuah kuliah kehidupan dari orang yang usianya seumuran dengan ibu mertuaku, namun dengan semangat yang masih menyala-nyala itu. Uniknya, beliau juga berasal dari daerah yang sama dengan ibu mertua, Ponorogo. Sebuah keunikan dan keajaiban dari rancangan puzzle kehidupan, yang diatur indah sekali oleh Sang Maha Pencipta.
Tanpa aku bertanya, mengalir begitu saja kalimat-kalimat ini.
“Alhamdulillah Mas, sekarang saya sudah memiliki kontrakan dan kos-kosan. Juga sudah mulai merintis peternakan ayam. Diurus dengan baik oleh istri di rumah.” ucap beliau antusias.
“Anak bungsu sekarang SD, sudah mau SMP. Si sulung juga baru saja diterima di jurusan kedokteran Unair Surabaya. Saat ini masih di rumah karena masih kuliah online, jadi bisa membantu ibunya mengurus bisnis.”
Aku tersenyum. Membayangkan belasan tahun lalu mengikuti ujian tes masuk di Unair jurusan kedokteran, tetapi gagal. Aku memang bodoh. Oh, mungkin bukan. Andai saja diterima kuliah kedokteran, mungkin tidak akan bertemu jodohku yang merupakan junior di jurusan Teknik elektro.
Mungkin pula, aku tidak akan pernah menjelajahi dunia, dimulai Taiwan hingga ke Belanda, jika digariskan menjadi seorang dokter. Allah tahu yang terbaik, aku tidak.
Tapi tetap saja aku memang tidak pintar, sih.
“Kerja tidak resmi di sini rintangannya berat, Mas. Dari tujuh orang dulu yang berangkat bareng, hanya saya yang masih bertahan. Bahkan baru empat bulan sudah ada yang pulang. Tidak kuat. Cari kerjaan juga susah. Saya dulu saja awal-awal hampir dua bulan penuh cuma bisa sepedaan berputar-putar mengelilingi kota.”
“Untuk menghafal jalan atau bagaimana, Pak?” tanyaku mulai kembali penasaran.
“Ya untuk sebar brosur menawarkan jasa bersih-bersih. Pas musim dingin pula saat itu. Kalau tidak segera dapat kerja, risikonya pulang atau mati kedinginan!” ujar beliau sambil tertawa lepas.
Aku tersenyum. Musim dingin di Eropa baru aku rasakan baru-baru ini. Dengan kondisi yang sama, aku tidak perlu berjuang mati-matian seperti beliau kala pertama kali merasakan bekunya musim dingin Eropa. Sekali lagi, aku tertampar dengan rintihan keluhan yang masih saja sering menghampiri pikiran dan hati yang lemah ini.
Kami tiba di KBRI dan proses pengambilan paspor berjalan cepat dan lancar. Perjalanan dari masjid ke kantor KBRI kembali terasa terlalu cepat berlalu. Aku merasa masih kurang mendapat ilmu-ilmu dan pengalaman dari beliau.
“Setelah ini akan kemana, Pak?”
“Ada kerjaan di dekat Centrum, Mas. Sampeyan langsung balik ke Eindhoven, kan? Ayo saya antar lagi saja, nanti naik dari Den Haag Central.”
“Lho Pak, saya naik bus saja.”
“Sudah, ayo jangan rewel! Saya suka ngobrol sama sampeyan.”
“Saya gantian yang bonceng, ya?”
“Tak bogem lho sampeyan nanti!” canda beliau sambil mengepalkan tangan.
Kembali aku mendapat banyak nasihat-nasihat hidup yang baik dan luar biasa. Sambil melihat indahnya kota Den Haag dari belakang jok sepeda tua ini, begitu besar dan luar biasa kasih sayang Tuhan, dengan memberikanku kesempatan bertemu dengan orang seperti beliau.
Di stasiun Den Haag Central kami berpisah dan berjanji akan saling berkunjung, jika diberikan kesempatan di masa yang akan datang. Entah aku ke Den Haag, atau beliau yang akan ke Eindhoven. Mungkin pula, ketika kelak di Indonesia.
Dalam perjalanan kereta menuju kota dimana istri sudah menunggu, aku banyak merenung. Benar memang aku telah menjelajahi berbagai negara, puluhan ribu kilometer jauhnya. Kemudian menemui ribuan individu dan mendapatkan banyak sumber ilmu serta pengalaman baru.
Tetapi itu semua bukan malah membuatku makin pintar dan tinggi. Sebaliknya, justru aku semakin merasa kecil, semakin kerdil.
Karena ternyata, banyak sekali sosok manusia-manusia seperti beliau di dunia ini. Manusia pilihan, yang namanya jarang terdengar.
Eindhoven, 23 Januari 2021.

Belum ada Komentar untuk "Manusia Pilihan yang Namanya Jarang Terdengar"
Posting Komentar