Benalu Pernikahan
Kenapa hidupku semakin sudah seperti ini sejak Hendra bercerai dari Risa. Lebih parah lagi ketika Hendra sudah menikah dengan Nia. Aku menghela nafas panjang, pusing rasanya kalau terus memikirkan nasibku yang semakin menyedihkan ini.
Hari ini, Hendra ditangkap polisi. Dia ditahan karena sudah menyebabkan kebakaran di kedai Risa. Kenapa juga Hendra bisa berbuat nekat seperti itu, harusnya dia berpikir ulang sebelum bertindak.
Saat Bu Imah menawarkan sebuah pekerjaan, sebagai pencuci piring. Aku yang saat itu sedang kalut karena uang dari Hendra semakin berkurang, akhirnya mau saja menerima pekerjaan itu.
Sebenarnya aku tidak mau bekerja sebagai tukang cuci piring, tapi mau bagaimana lagi? Aku harus tetap membeli obat jantung suamiku, karena aku tidak mau ditinggal mati bapaknya Hendra. Meskipun ada rasa benci karena dia pengangguran dan hanya diam saja di rumah, tetap saja aku tidak mau jadi janda.
Hari ini rumah makan itu tutup, jadi aku bisa beristirahat sebentar dan rencananya aku mau ke kantor polisi untuk menjenguk Hendra. Sejak kemarin Nia tidak keluar dari kamar, anak itu kalau di rumah memang lebih senang mengurung diri di kamar.
Aku menyesal sekarang, andai aku bisa mendidik anak-anakku dengan baik. Mungkin saja kehidupanku tidak akan menyedihkan seperti ini. Percuma menyesal, tidak akan merubah apapun.
"Sekarang ibu sudah sadar dengan dosa ibu di masa lalu? Sudah menyadari apa penyebab keluarga kita jadi hancur berantakan seperti ini? Taubat, Bu. Mumpung masih ada umur." Aku menoleh, bapaknya Hendra memang tidak pernah bosan untuk terus menasihatiku.
"Bu, tolongin Nia, Bu." Nia berjalan keluar kamar dengan terseok-seok.
"Kamu kenapa, Ni?"
"Pusing."
Brukk.
Nia tergeletak di bawah, dia pingsan.
"Pak, tolong Nia, Pak."
"Ibu cari bantuan keluar, bapak jagain Nia di sini!"
Aku segera berlari keluar mencari siapa saja yang bisa membantu aku untuk membawa Nia ke rumah sakit. Di luar ada pengemudi ojek online yang sedang mangkal, aku segera memanggilnya.
"Tolong bantu anak saya, Mas."
"Bawa kemana, Bu?"
"Ke rumah sakit. Tolong Carikan taksi."
Dia mengangguk, sepertinya menghubungi temannya. Tidak lama seorang temannya datang, dan aku segera membawa Nia ke rumah sakit. Meskipun Nia bukan anak kandungku, tapi aku sangat menyayangi dia karena memang menginginkan anak perempuan. Aku sangat mengkhawatirkannya, apalagi dia juga menantuku sekarang.
Sampai di rumah sakit, Nia segera ditangani oleh dokter. Aku menunggu di depan ruang UGD, sedangkan bapaknya Hendra tidak ikut karena akan lebih repot kalau dia ikut.
Setelah sekian lama menunggu, Sorang dokter keluar dari ruang UGD. "Sejak kapan anak ibu mengalami keluhan seperti itu?"
"Saya baru tahu tadi pagi, Dok."
"Kita harus melakukan cek darah lengkap dan beberapa tes untuk memastikan penyakit apa yang di derita anak ibu."
Deg.
"Apa penyakit anak saya parah, Dok?"
"Saya tidak bisa mengatakan apapun sebelum tes itu di lakukan, Bu. Mendengar gejala dan keluhan yang diceritakan oleh anak ibu, saya rasa memang harus melakukan serangkaian tes."
"Anak saya sudah sadar, Dok?"
"Sudah, Bu."
"Lakukan apa saja yang harus dilakukan, Dok."
"Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu." Aku hanya mengangguk.
Bagaimana ini? Harus mencari uang kemana? Sepertinya aku butuh biaya banyak. Kalau pinjam ke Bu Imah kira-kira diberi pinjam tidak ya? Biarlah aku pikirkan itu nanti. Yang penting Nia segera ketahuan sakit apa.
***
"A-apa, Dok? HIV?"
Lututku lemas seketika mendengar perkataan dokter. Nia terkena HIV? Bagaimana bisa? Kepala aku tiba-tiba berdenyut nyeri.
HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Semakin banyak sel CD4 yang dihancurkan, kekebalan tubuh akan semakin lemah, sehingga rentan diserang berbagai penyakit.
Infeksi HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS adalah stadium akhir dari infeksi virus HIV. Pada tahap ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya.
"Melihat kondisinya seperti itu, sepertinya anak ibu terkena HIV sudah lama hanya saja dia tidak menyadari gejalanya. Dan sekarang begitu ketahuan sudah stadium I akhir.
"Anak ibu juga mengakui, kalau dia cukup sering gonta ganti, maaf pasangan seksualnya. Sepertinya dia tertular dari situ."
Ya Allah, apa Nia bisa berbuat seperti itu? Bukankah dia melakukan itu hanya dengan Hendra saja? Lalu apakah Hendra juga akan tertular?
"Dok, apakah suaminya juga bisa tertular?"
"Kemungkinan bisa, tapi kemungkinan akan berkurang kalau mereka pakai pengaman saat berhubungan. Lebih baik ikut di tes saja biar bisa ketahuan sebelum gejalanya terlalu parah."
"Lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang, Dok? Apa anak saya bisa sembuh?"
"Saat ini tidak ada obat untuk benar-benar menyembuhkan HIV dan AIDS. Akan tetapi, ada obat untuk memperlambat perkembangan penyakit tersebut, dan dapat meningkatkan harapan hidup penderita."
"Tapi sebaiknya untuk saat ini anak ibu biar dirawat saja dulu di rumah sakit, karena kondisi tubuhnya sedang sedikit drop."
Aku hanya mengangguk lemah. Dengan langkah gontai aku meninggalkan ruang dokter. Aku segera menuju ruang perawatan Nia, aku harus meminta penjelasan darinya.
Saat aku masuk, Nia sedang melamun. Aku mendekatinya, ingin marah tapi entah kenapa aku tidak bisa marah kepada Nia. Mungkin karena aku sudah terlalu menyayanginya sejak dia kecil meskipun kami tidak ada hubungan darah.
"Bu, aku sakit apa?"
"Kamu terkena HIV, Ni."
Dia menangis sambil tertunduk, tapi tidak ada raut terkejut dari wajahnya. Apa dia sudah tahu semua ini?
"Kamu sudah tahu ini?"
"Tahu sih engga, tapi temanku ada yang kena HIV/AIDS. Jadi udah gak kaget kalau aku juga kena."
"Kenapa kamu seperti ini, Nia? Sejauh apa pergaulan kamu di luar sana, hah? Berapa banyak laki-laki yang sudah meniduri kamu?"
Emosiku semakin memuncak ketika melihat Nia hanya menangis, tanpa menjawab pertanyaanku. Ini salahku, aku memang tidak terlalu memperhatikan pergaulan anak-anakku. Aku sudah gagal menjadi orangtua. Apa jadinya kalau bapaknya Hendra tahu ini semua? Bisa-bisa penyakit jantungnya akan kambuh.
"Bu, Nia bisa sembuh kan, Bu?"
"Ibu gak tahu, Ni."
Aku beranjak pergi dari ruang perawatan Nia. Harus kubawa kemana kaki ini melangkah? Ke rumah menemui suamiku? Atau ke kantor polisi menemui Hendra? Aku benar-benar bingung sekarang.
Akhirnya karena hari sudah terlalu sore, aku memilih pulang terlebih dulu. Pergi ke kantor polisi biar besok saja, aku akan izin tidak masuk kerja sehari saja.
"Bu, gimana keadaan Nia, Bu? Dia sakit apa? Kenapa dia tidak ikut pulang denganmu?" Suamiku itu langsung memberondongku dengan banyak pertanyaan ketika aku sampai rumah.
"Ibu mau mandi dulu, Pak. Nanti ibu ceritakan."
Meskipun terlihat penasaran, tapi dia bertanya lebih jauh. Aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, rasanya lelah sekali tubuhku ini. Bukan lelah tubuh, tapi lelah pikiranku atas masalah yang datang bertubi-tubi.
Nia sakit, suamiku sakit, Hendra di penjara. Siapa yang akan membantu aku mencari nafkah untuk keluarga? Sedangkan jantung bapaknya Hendra semakin parah, belum lagi hutang Hendra di bosnya, juga kontrakan yang minta segera dilunasi untuk setahun kedepan karena pemiliknya sedang butuh uang. Ah, kepalaku mau pecah rasanya memikirkan masalah yang ada. Andai Hendra tidak pernah bercerai dari Risa, semua ini tidak akan mungkin terjadi.
Setelah dirasa siap, aku menemui suamiku di ruang depan. Dia terlihat cemas dan gelisah, tentu saja karena Nia keponakan kesayangannya. Aku duduk tepat di hadapannya, rasanya lidahku kelu untuk memberitahu hal ini.
"Nia sakit apa, Bu?"
"Dia terkena HIV, Pak. Selama ini pergaulan Nia di luar benar-benar sudah diluar batas. Menurut dokter Nia terkena virus HIV ini sudah lama, hanya saja Nia tidak menyadarinya."
"Apa?!" Benar saja, ayahnya Hendra sangat terkejut.
"Apa salah dosaku di masa lalu, ya Allah? Kenapa engkau memberi aku ujian seberat ini?" Dia menunduk, menyangga kepala dengan kedua tangannya.
"Apa hukuman yang akan Bapak dapatkan di akhirat jika Bapak mati nanti, Bu? Bapak sudah gagal mendidik anak-anak kita. Setiap apa yang mereka lakukan, tentu Bapak juga akan dimintai pertanggung jawabannya sebagai orangtua mereka."
"Astaghfirullah, ampuni aku ya Allah. Ampuni aku." Suamiku terisak, aku hanya diam menatapnya.
Harusnya aku sedih, harusnya aku juga merasa bersalah. Tapi kenapa hatiku seolah mati rasa? Aku tidak merasakan apa-apa. Kenapa dengan aku ini?
"Astaghfirullah. Ya Allah." Bapaknya Hendra memegang dadanya, nafasnya terdengar berat. Suamiku, kenapa dia?
"Pak, Bapak kenapa, Pak?"
"Bu, dada Bapak rasanya sakit sekali, Bu."
"Tolong! Tolong!" Aku berusaha berteriak sekuat tenaga.
"Bapak sudah tidak kuat, Bu. Titip anak-a-nak kita." Ucapnya dengan nafas yang tersengal.
"Bapak, ibu cari bantuan sebentar dulu, Pak." Dia menahan lenganku.
"S-sampaikan maaf Bapak, pada Risa Bu. Dia orang baik." Dadanya terangkat sebelum kemudian matanya perlahan terpejam, tubuhnya terkulai lemas. Apa yang terjadi dengan suamiku? Aku sedih, aku merasa takut, tapi air mataku tidak menetes.
--------------------------------------
Part 40
☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️
PoV Ibu Hendra
Pagi ini, beberapa tetangga dekat mulai melayat juga pak RT dan pemilik kontrakan. Suamiku meninggal semalam saat akan di bawa ke rumah sakit.
Aku sendirian, benar-benar sendiri. Tidak ada sanak keluarga yang datang untuk menguatkan. Tidak ada Nia, tidak ada Hendra, aku benar-benar merasa sebatang kara. Menyedihkan sekali akhir hidup suamiku, tidak ada anak-anak di sampingnya. Apa hidupku juga akan berakhir menyedihkan seperti ini nanti?
Tidak lama kemudian, Arman datang. Pagi buta tadi memang aku sengaja menghubungi dia. Tapi kenapa sendirian? Bukankah aku meminta Arman agar memberitahukan kabar meninggalnya suamiku kepada Nia dan Hendra. Tapi, mana Nia dan Hendra? Apa mereka tidak diizinkan pulang?
"Maaf Tante, kondisi Nia masih drop. Selain itu, Nia juga menolak untuk ikut pulang. Katanya dia ingin tetap.di rumah sakit sampai sembuh." Ucap Arman yang baru mengahampiri aku.
"Hendra?"
"Dia tidak mau datang meskipun saya sudah memaksanya. Dia bilang kabar meninggalnya bapak bukan hal penting." Ucap Arman sambil tertunduk lesu.
Ya Allah. Anak-anakku, tega sekali mereka tidak mau datang ke pemakaman bapaknya. Apa mereka sebenci itu kepada suamiku? Tapi dia bapak mereka, tidakkah mereka sedikit iba? Tuhan, bukan hanya suamiku yang gagal mendidiknya, tapi aku juga.
"Tapi ada yang mau datang menemui Tante."
"Siapa, Man?"
"Nanti Tante juga tahu sendiri."
Arman kembali ke depan, sedangkan aku masih duduk di samping jenazah suamiku. Menunggu ustadz datang untuk mengimami sholat jenazah. Masih baik ada Arman yang menemaniku di sini, kalau tidak aku benar-benar sendirian.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Aku menoleh.
Detik itu juga dadaku bergemuruh hebat, mataku memanas. Aku tidak bisa berkata-kata rasanya, dan detik itu juga air mata ini mengalir begitu saja semakin lama semakin deras. Ketika anak-anakku tidak mau melihat bapak mereka untuk terakhir kalinya, tapi dia datang.
Setelah apa yang aku perbuat dahulu, dia masih mau datang dengan kebesaran hatinya. Lihatlah, Pak. menantu kesayanganmu datang.
"Risa," ucapku dengan suara sedikit bergetar. Dia datang bersama seorang laki-laki yang terus merangkul bahunya.
"Bapak," Risa menangis mendekati jenazah suamiku. Dia menangisi bapaknya Hendra? Sesayang itukah dia kepada mantan bapak mertuanya?
"Kenapa bapak bisa meninggal, Bu? Apa sakitnya memang semakin parah?"
"Sakitnya memang parah. Tapi bapak meninggal karena jantungnya kambuh saat Ibu mengabarkan kalau Nia terkena penyakit HIV."
"Hah? HIV, Bu?" Aku mengangguk, malu sekali rasanya.
"Sebelum bapak meninggal, dia minta ibu menyampaikan salam untukmu, Ris. Bapak minta maaf kalau ada salah."
Risa menggeleng. "Bapak gak ada salah, bapak orang baik. Semoga Allah ampuni segala dosa dan diberi tempat terbaik disisinya."
"Aamiin." Lirihku sambil menatap sendu ke arahnya.
"Risa, ibu juga minta maaf atas semua dosa dan kesalahan ibu sama kamu. Ibu tahu ibu sudah sangat keterlaluan, Ibu benar-benar menyesal." Ucapku tiba-tiba.
"Risa sudah memaafkan, asal ibu memang sudah menyesalinya. Ibu yang sabar, ya." Dia tersenyum.
Ya Allah, terbuat dari apa hati wanita di hadapanku ini. Setelah keluargaku menyakitinya, dia masih bisa memaafkan dan berbesar hati untuk datang kesini saat aku terkena musibah. Sementara Nia dan Hendra, enggan datang meski untuk sekedar menguatkan aku, ibunya.
"Bu, kenalin ini mas Fajar. Suami Risa." Lelaki yang sejak tadi di sampingnya mengangguk hormat.
Aku tersenyum. "Terima kasih Fajar, sudah mengizinkan Risa untuk datang kemari."
"Sama-sama, Bu. Saya juga turut berduka cita." Aku hanya mengangguk.
"Oh iya, Ayah dan yang lain tidak bisa datang kesini. Mereka hanya titip salam, semoga ibu diberi kesabaran dan tabah menerima ini semua." Ucap Risa.
"Tidak apa-apa, kamu datang saja ibu sudah sangat senang. Bahkan ibu malu, sudah terlalu banyak luka yang ibu torehkan di hatimu. Tapi kamu masih mau datang kesini."
Dia hanya tersenyum. "Bu, Hendra dan Nia mana? Dari tadi gak kelihatan. Apa Hendra tidak bisa mendapatkan keringanan untuk sekedar menghadiri pemakaman bapak?"
Aku menggeleng. "Bukan tidak bisa, tapi mereka yang tidak mau. Nia memilih tetap di rumah sakit karena memang kondisinya juga masih drop. Dan Hendra tidak mau datang, katanya berita kematian bapak bukan hal penting. Dia memang sudah mengharapkan bapak mati sejak lama, karena uangnya selalu habis untuk menebus obat bapak."
Air mataku menetes lagi. Bisa kurasakan Risa mengusap bahuku untuk sekedar menenangkan mungkin. Aku merasa benar-benar malu sama Risa.
"Tante, kata pak ustadz lebih baik segera dilakukan sholat jenazah lalu segera dikuburkan." Ucap Arman yang baru saja datang.
"Eh, pak Fajar, Risa, kalian sudah datang?"
"Sudah, Man. Saya dan Risa baru saja datang."
"Kamu tahu kalau mereka akan datang, Arman?"
"Mas Arman yang mengabarkan Risa, Bu."
Aku mengangguk pelan. Kenapa orang-orang yang ada di sampingku saat aku susah, adalah orang lain dan orang yang pernah aku sakiti. Sedangkan anak-anak yang selama ini aku bela, malah tidak ada disini.
Setelah di sholatkan, jenazah di bawa ke TPU untuk dimakamkan. Dan setelah proses pemakaman selesai, mereka semua bubar satu per satu. Risa pergi bersama suaminya, Arman juga pergi karena ibunya sudah menunggu di rumah.
Sekarang aku benar-benar sendirian. Tidak ada lagi suamiku, yang menjadi tempatku berbagi suka dan duka. Sanggupkah aku menghadapi masalah di depan sana tanpa suami di sampingku?
***
Aku memutuskan untuk mampir ka kantor polisi, setelah sebelumnya menemui Nia di rumah sakit tadi. Kondisinya bum ada perubahan, masih drop sementara dokter terus memantau perkembangannya. Aku mendesah pelan, harus mencari uang kemana untuk biaya rumah sakit Nia? Sedangkan gaji sebagai cuci piring tidak seberapa.
Tapi Nia masih tidak mau pulang sebentar aja, untuk sekedar untuk mengunjungi makam bapaknya meskipun aku sudah memaksanya. Padahal bapaknya Hendra adalah orang yang sudah merawatnya, memberikan kehidupan yang layak meskipun Nia bukan anak kandungnya. Benar-benar tidak tahu balas budi.
Sampai di kantor polisi aku menunggu di ruang tunggu, sementara polisi sedang memanggil Hendra. Begitu dia datang dan berdiri di hadapanku, tangan ini langsung menghadiahkan satu jejak merah di pipi anakku itu.
Plakkkk.
"Anak kurang ajar. Dimana kamu saat bapakmu meninggal, hah? Tidak terbesit kah di pikiran kamu untuk melihatnya sekali saja untuk yang terakhir kalinya."
Dia terus bergeming, sama sekali tidak ada raut sedih ataupun penyesalan dari wajahnya. Apa dia tidak merasa kehilangan bapaknya? Inikah hasil didikanku selama ini terhadap kedua anakku?
"Buat apa Ibu sedih, sih? Ibu harusnya seneng kalau bapak udah mati, jadi Ibu gak punya beban lagi. Ibu gak perlu capek-capek ngurusin bapak yang lumpuh itu. Ibu juga seneng kan, Bapak meninggal?" Dia tersenyum sinis.
Plakkkk.
"Ibumu ini janda sekarang, Hendra. Janda! Ya Allah, aku benar-benar sudah gagal mendidik kamu dan Nia. Ibu dan bapak sudah gagal!" Aku terduduk lesu, menyeka bulir bening yang mulai menetes.
"Karena dosa di masa lalu, sekarang keluarga kita benar-benar hancur, Hendra! Bapak sudah meninggal, kamu di penjara, dan Nia terkena penyakit HIV. Ibu benar-benar sendirian sekarang."
"A-apa?! Nia terkena HIV? Ibu jangan bercanda!" Matanya membelalak.
"Ibu tidak bercanda. Istrimu itu pergaulannya terlalu bebas di luar sana. Dia mau saja ditiduri lelaki hanya demi mendapatkan rupiah. Dia bilang melakukan semua ini karena kamu sudah tidak bisa memenuhi keinginannya lagi."
"Aarghhhh! Berani-beraninya Nia mengkhianati aku, beraninya dia bermain api di belakangku. Sudah berapa banyak laki-laki yang menjamah tubuhnya itu?"
"Hendra, sebaiknya kamu juga periksa. Ibu takut kamu juga tertular."
"Aku pakai pengaman selama ini, Bu. Jadi kemungkinan tertularnya sangat kecil. Tapi kalau diizinkan nanti aku akan minta periksa."
Setelah cukup lama akhirnya aku pamit pulang, karena hari juga sudah terlalu sore.
"Bu, apa Ibu tidak bisa membantu mengusahakan agar aku bebas dari sini? Aku tidak mau mendekam di penjara, Bu." Tanyanya sekali lagi.
Aku menggeleng. "Gak bisa, Hendra. Ibu gak punya uang lagi. Lebih baik kamu menerima hukuman kamu. Nikmati akibat dari perbuatan kamu yang bertindak sembarangan itu. Ibu tidak bisa membantu kamu lagi."
"Bu!"
Aku melangkah pergi meninggalkannya, tidak kupedulikan lagi Hendra yang terus berteriak memanggilku. Biarkan saja, semoga setelah ini dia akan sadar.
***
Begitu sampai di rumah, terasa sepi dan sunyi sekali. Aku sendirian, tidak ada lagi suara suamiku yang selalu mengingatkan untuk kebaikan, mengingatkan kesalahanku, menyuruhku untuk sholat dan bertaubat.
"Pak, Ibu kangen sama bapak. Ibu minta maaf kalau gak pernah dengerin omongan bapak." Rasa kehilangan itu semakin nyata, saat dia sudah benar-benar pergi.
Aku masuk ke kamar mandi, kemudian berwudhu. Setelahnya dengan tangan yang sedikit bergetar aku meraih mukenah yang selalu tersimpan rapi di atas lemari, bahkan mukenah ini tercium sedikit bau apek.
Ya Allah, sudah berapa lama aku tidak sholat? Sudah berapa lama diri ini menjauh darimu? Aku segera memakainya, dan melakukan sholat. Setelah mengucapkan salam, detik itu juga air mataku tumpah.
Bayangan perbuatanku kepada Risa, melintas begitu saja. Sikapku yang seenaknya, tidak pernah memikirkan perasaannya. Bahkan saat Hendra dan Nia berselingkuh aku diam saja, bahkan cenderung mendukung perbuatan mereka.
Sekarang, aku harus menerima semua hukumannya. Hukuman dari dosa dan kesalahanku di masa lalu.

Belum ada Komentar untuk "Benalu Pernikahan"
Posting Komentar