PEREMPUAN TUA YANG MEMBAKAR KENANGANNYA

Entah ini malam yang ke berapa perempuan tua itu kembali membakar pakaian-pakaiannya, aku tak menghitungnya karena aku merasa itu tak penting, pun karena jarak rumahku dengan rumahnya agak jauh, berselang beberapa rumah, jadi akibat yang ditimbulkan dari pembakaran itu tidak begitu terasa. 


Sepertinya perempuan tua itu sengaja membakarnya di waktu malam, agar tak begitu mengganggu para tetangga, dan pastinya tak ada anak kecil yang merubung, yang biasa dilakukan oleh mereka saat menemukan bakaran. 


Namun asapnya tetap saja terlihat oleh sorot lampu tiang listrik penerang gang.  Menyempul putih mengikuti arah angin. Apinya hanya sesekali terlihat, mungkin karena sebagian pakaian itu basah oleh embun karena tak habis terbakar di hari sebelumnya. 


Akhirnya, keluhan para tetangga mulai timbul, dari gerutuan, status di media sosial hingga perbincangan di gardu, tapi rasa sungkan menjadikan mereka tak ada yang mau menegur, berharap apa yang dilakukan hanya sebatas satu atau dua malam saja.  


Tetangga sisi kirinya memposting status bahwa kepulan asapnya yang masuk rumah, disertai bau campuran bahan lain yang menjadi asesoris pakaian atau pewarna turut menyeruak terasa mengorek hidung, membuat anaknya terbatuk-batuk. 


Meski pintu dan jendela ditutup rapat, asap dengan bau menyengat tetap saja berhasil masuk hingga mereka dibuat tak nyaman. 


Siang hari, didapati gelaran pakaian beragam jenis dan warna di jalan pelataran rumah perempuan tua itu. Bercecer tak beraturan, mungkin agar mudah terbakar. Sebagian atau beberapa bagian tampak menghitam dilalap api. 


Aku tak mengenal betul perempuan tua itu, sebab beliau penghuni baru di lingkungan ini, awalnya yang menempati rumah itu yang katanya anak perempuannya dengan keseharian bekerja di pabrik tekstil. Tapi sejak sebulan yang lalu, beliau tinggal sendiri usai ditinggal suaminya wafat karena serangan jantung, dan anak perempuannya sudah tak lagi menempati rumah itu, sudah pindah ke kota lain karena dirotasi oleh pihak perusahaan. 


Begitulah realita tinggal di perumahan, kurang begitu mengenal tetangganya sebab beberapa hal, salah satunya karena meski berdekatan tapi mengenalnya di setengah perjalanan hidup dan itu pun di sisa waktu kesibukan masing-masing.  


Perempuan tua itu bertubuh tambun, usianya sekitar tujuh puluh tahun, karena bobot tubuhnya saat berjalan terlihat agak kesulitan, sesekali terlihat membawa sebatang kayu untuk menopang tubuhnya. Saat melintas di depan rumah, dia menyapa dan senyum ala kadarnya. 


Karena keluhan warga yang semakin besar, malam ini aku putuskan untuk menemuinya. 


Saat malam semakin kelam, aku keluar rumah, aku dapati perempuan tua itu sedang menuangkan cairan seperti bahan bakar di atas pakaian-pakaian yang menumpuk tak beraturan.


Aku mendekat. Di bawah cahaya lampu mercuri, rambut putihnya berkiauan. Ia tersenyum dan menyapa. "Eh, bapak, mau ke mana?"


Aku jawab dengan senyum. 


Ternyata perempuan itu paham, lalu mempersilakan aku masuk. 


Di dalam ada kursi kayu berlapis kain beludru warna biru motif bunga. Aku duduk di kursi panjang yang menghadap utara. Sedangkan perempuan itu duduk di kursi yang berbeda menghadap timur. 


Perlu agak berlama-lama untuk mengutarakan maksud dan tujuanku, agar tidak lagi membakar pakaian-pakaian. Kepada perempuan, apalagi yang sudah lanjut usia, pasang telinga itu lebih penting daripada membuka mulut, pikirku. 


Mungkin karena terlalu lama tak pernah ada yang mau mendengar, meski pendek pertanyaan yang aku ajukan, perempuan itu menjawab panjang, atau lebih tepatnya bercerita panjang. Seperti melempar sebutir kerikil ke kandang ayam yang sedang mengerami.


Perempuan yang kemudian aku sapa nenek itu bercerita tentang kesendirian dan kesepian. Bahwa dirinya punya empat orang anak, dua putera dan dua puteri, tapi semuanya pergi merantau dan jarang pulang, tinggal berdua dengan suaminya. Anaknya bertahun-tahun tak pulang meski di hari raya agamanya, padahal sebagai orang tua akan sangat bahagia jika anak-anaknya pulang meski sebentar, apalagi jika ada riuh cucu. 


Sampai empat bulan yang lalu memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman karena tak ada yang dapat diusahakan untuk penghidupan, terlebih kiriman uang untuk menyambung hidup, semakin jarang diterima dari putera-puterinya.  


Padahal karena tubuhnya yang makin melemah, tak mampu lagi untuk bertani, dan pilihan menetapnya di sini, di rumah anak perempuan termuda, dengan harapan dekat dengan anak dan cukup pangan. 


Ternyata, hidup tak seindah yang dibayangkan, anak perempuannya memilih untuk ikut kakak tertuanya di kota lain, berselang sebulan sesampainya di sini. "Ditinggalkan anak-anak sudah biasa, tak mungkin jg kami menahannya, karena mereka pun berhak mendapatkan kebahagiaan yang mereka angankan."


Berhenti sejenak untuk mengusap kelopak  matanya yang basah. "Namun, ditinggal suami yang menemani selama ini, merupakan kehilangan yang tak terperi."


Ya, suaminya meninggal dua bulan lalu, entah karena apa. Hanya para ibu yang berkunjung, dan Ketua RT mewakili lingkungan. Dan dikebumikan menurut ketentuan agamanya. 


Aku tetap diam, sesekali tersenyum atau menggerakkan alis tanda aku memperhatikannya. 


Helaan nafasnya panjang dengan dada yang menanjak. "Saya ingin membakar kenangan, pak, biarlah kenangan itu tercerai-berai dan terbang ke langit, tak sanggup lagi saya mengingatnya."


Berhenti dengan cukup lama, seolah ingin mengumpulkan daya untuk melanjutkan ceritanya. Satu persatu air mata menetas seiring dipejamkan matanya. 


Aku masih memasang telinga, mengunci mulut. Aku lirik meja sudut yang kosong tanpa hiasan. 


"Tidak ada waktu yang tepat untuk perpisahan," sambungnya. "Kami bahagia, saya dan suami saya, namun dia meninggalkan saya menghadap Tuhan...."


Badannya menunduk, dengan jari yang mengait. Aku pandang sebentar. Kucuri pandang dinding ruang tamu yang polos tanpa pajangan, hanya terlihat cat yang mengelupas. 


"Pada pakaian-pakaian itu melekat kenangan, atas kebersamaan kami, ada bayang-bayang suami."


Benarkah kebahagiaan itu akan menyakitkan saat menjadi sejarah? 

Iyakah manisnya hidup menjadi pahit saat tinggal kenangan? 


"Kenangan itu laksana pisau yang mengiris-iris hati ini, pak, maka dari itu saya putuskan membakar pakaian-pakaian itu, membakar kenangan."


Bagian baju di lututnya membasah dari air yang terus menetes melalui pipinya. 


Benarkah teman manis itu pahit, atau ujung manis itu pahit? 


"Saya minta maaf, jika asap pembakaran mengganggu, semoga gangguan itu tak sebesar yang aku rasa pada kenangan."


Aku coba tersenyum, tak dapat yang bisa aku ungkap apalagi untuk dipesankan, usia dan perjalanan hidupnya melampaui capaian dan pemikiranku. Semoga langkahnya menjadi ringan. 


Rasanya tak perlu lagi aku ungkapkan keberatan kami atas tindakannya membakar pakaian-pakaian itu. Aku berdiri, pamit, kusapu pandang, dinding ini bersih dari kenangan, tanpa foto dan tulisan. Sebuah simbol agama menggantung di atas pintu, biarlah menjadi pengingat akan adanya Tuhan. 


Malam telah larut. Asap putih masih mengepul dari pakaian yang masih terbakar. 


Usai menunaikan shalat subuh, ketika pintu-pintu masih tertutup, aku bawa beberapa lembar karung dan cangkul, mengeruk pakaian yang sebagian menjadi arang. 


Saat Matahari mulai terbit, perempuan tua itu keluar rumah, mengucapkan terima kasih dari kejauhan, menunjuk pelatarannya yang bersih. Sepertinya ada yang memberitahu siapa yang membantu membuang kenangan-kenangan. Perempuan tua itu tampak sumringah.

Belum ada Komentar untuk "PEREMPUAN TUA YANG MEMBAKAR KENANGANNYA"

Posting Komentar