Gara-Gara Gaun Tidur

Mas Haris menatapku lekat. "Apa kamu ngga akan mau mendengar penjelasanku, Lan?" 


Aku berhenti mengunyah, lalu meneguk air mineral di depanku. "Mau jelasin apa? Mau minta maaf? Mau bilang kalo kalian khilaf? Atau lebih parah lagi?" 


"Bu-bukan begitu."


"Pernikahan kita bukan karena dijodohkan, setahuku, aku juga nggak merebut kamu dari siapa-siapa. Begitu pun aku, sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun saat menikah denganmu. Lalu, kamu membawa orang lain masuk ke dalam rumah tangga kita, kalo aku yang begitu, apa reaksimu? Hm?"


Mas Haris diam, tatapannya terlihat sendu. 


"Aku sudah pernah bilang, jika salah satu dari kita membawa orang ketiga dalam hubungan ini, berarti salah satu dari kita harus pergi. Dan, ternyata, kamu yang membawa orang lain itu. Itu artinya, aku sudah nggak ada artinya di hatimu, Mas. Aku mohon, jangan minta aku untuk mengerti dan bertahan. Pulangkan aku."


Suaraku semakin serak karena menahan tangis. Bahkan rasanya aku tak sanggup menyelesaikan sarapan ini. Aku beranjak dari kursi sambil membawa piring yang masih berisi nasi goreng. Akan tetapi, Mas Haris lebih gesit bangun dari kursinya, lalu berusaha mencegahku pergi. 


"Tunggu dulu, bisa kita bicara baik-baik? Kumohon, jangan seperti ini."


"Bicara baik-baik? Saat semuanya sudah tidak baik-baik saja?" 


"Iya, aku ngaku salah. Tapi, kumohon, tarik lagi ucapanmu tentang perpisahan itu. Tidak akan ada yang pergi dari sini."


"Egois! Kamu minta aku bertahan dalam situasi begini? Kalo aku nggak memergoki chat menjijikkan itu, mungkin selamanya aku menjadi wanita bodoh yang terus terusan kamu bohongi, iya, kan?"


Mas Haris mempererat genggaman tangannya pada lenganku. 


"Lepas! Aku tak sudi disentuh oleh tangan yang sudah dipakai untuk menyentuh kulit wanita lain!" 


Aku berusaha melepaskan cekalan Mas Haris. Hingga piring dan gelas di tanganku jatuh dan pecah berantakan. Masa bodoh jika suara pecahan itu terdengar sampai ke rumah tetangga. 


Belum sempat Mas Haris berkata, suara ponsel dari atas meja, memaksanya melepaskan tanganku. Tak kusia-siakan kesempatan itu untuk pergi, masuk ke kamar dan menguncinya. Samar kudengar Mas Haris menerima panggilan telepon dari seseorang. Di dalam kamar, kutumpahkan lagi air mata. Aku ingin menangis sepuasnya.


Apa salahku? Kenapa Mas Haris setega ini? Apakah belum hadirnya momongan menjadi masalah? Bukankah, selama ini Mas Haris selalu berkata itu bukan masalah? Hubungan kami juga selama ini baik-baik saja. Ada banyak pertanyaan dalam hati yang aku sendiri tidak tahu jawabannya. 


Tak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu kamar. 


"Lan, Mas pergi dulu sebentar. Mas mohon, kamu jangan ke mana-mana. Belingnya juga udah Mas bersihin. Tolong, kamu jangan nekat. Mas pergi sebentar, ya."


Aku membisu, walau pun ingin tahu ia akan ke mana, tapi aku tak berniat bertanya. Aku juga tak menjawab kalimat Mas Haris. Menit berikutnya terdengar suara mobil Mas Haris menjauhi pekarangan rumah kami. 


Perlahan aku keluar dari kamar. Tenggorokan rasanya kering, mungkin karena terlalu banyak menangis. Saat aku mengambil air minum, dapur terlihat bersih. Pecahan piring dan gelas yang tadi tercecer sudah tidak ada lagi. 


Sebenarnya, Mas Haris suami yang baik. Sesekali ia membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Ia juga tak pernah memperlakukan aku dengan buruk. Masalah makan pun tidak rewel. Entah apa yang tengah merasukinya, hingga tega berbuat begitu. 


Aku menarik napas dan membuangnya perlahan. Terdengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan dari pintu depan. 


"Assalamualaikum." Itu suara Mas Haris. 


Meskipun malas, aku beranjak untuk membukakan pintu. Di depan pintu tampak Mas Haris berdiri dengan seseorang di sampingnya. Dalam hati agak dongkol karena kami sedang bersitegang, Mas Haris malah membawa seseorang datang ke rumah ini.

Belum ada Komentar untuk "Gara-Gara Gaun Tidur "

Posting Komentar