TAK MAU DISENTUH

Aku juga menatap keduanya. Mereka terlihat salah tingkah. Pak Rahardian bergegas masuk ke mobil dan pak Trisna malah cengengesan. 


"Halo, Kania!" ucapnya sambil melambaikan tangan. Kulihat pak Rahardian berbicara kepadanya hingga ia cepat-cepat masuk ke dalam mobil.


Sedang apa mereka di sini? Kuperhatikan rumah yang berada di depanku. Tidak ada bedanya dengan model rumah ini. Tidak mungkin mereka punya rumah di sini juga.


Aku bergegas masuk ke dalam rumah setelah mengunci pagar. Entah mengapa banyak sekali kejadian tak terduga hari ini. Kutarik nafas dalam-dalam lalu begabung bersama ibu dan kedua asisten rasa keluarga kami. 


"Gimana jalan-jalan hari ini?" 


Mereka menghentikan obrolan dan menatap ke arahku. 


"Seru banget, Mbak! Apalagi ketemu dan diantar sama mas-mas ganteng."


Rani bersemangat sekali membahas Ansel. Wanita ini juga seorang single parents sepertiku. Ia pun memiliki seorang anak yang ia titipkan bersama ibunya di kampung kemudian ia merantau mencari pekerjaan. Aku menawarkannya untuk membawa anaknya ke sini agar Salina punya teman tapi ia masih sungkan. 


"Mobilnya buagus banget gitu ya Mbak. Wangi dan nyaman tenan duduk di dalam." Bu Zahra tak kalah hebohnya. Ibu hanya tersenyum melihat kedua orang itu. 


"Ialah Bu, harganya aja milyaran. Aku juga baru pertama kali naik mobil mewah seperti itu," ucapku menimpali kehebohan mereka.


"Tapi dia siapa, ya, Mbak? Kok bisa baik banget gitu?" 


"Entahlah Mbak Ran, sebut saja orang baik. Aku istirahat dulu, ya?"


Hari yang melelahkan ini membuatku ingin segera merebahkan diri. Lelah hati dan pikiran ini mengalahkan lelahnya mendaki gunung yang biasa kulakukan dulu. Tiba-tiba aku rindu hawa alam. Menghirup udara di alam terbuka sangat menyegarkan hati. Mengingat profesiku sekarang sepertinya sangat sulit mewujudkannya.


Segera kubersihkan diri lalu menunaikan salat isya. Sebelum berlabu ke alam lain kusempatkan membaca surah Al- Mulk. Surah ke-67 dalam Al-Qur'an ini biasa juga disebut surat tabarak karena diawali dengan dengan Tabarakallah. 


Ada beberapa hadits yang membahas mengenai surah yang terdiri dari 30 ayat ini. Salah satunya dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;


Satu surat dalam Alquran (yang terdiri dari) tiga puluh ayat (pada hari kiamat) akan memberi syafaat (dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala) bagi orang yang selalu membacanya (dengan merenungkan artinya) sehingga Allah mengampuni (dosa-dosa)nya, (yaitu surat Al-Mulk).


Ada begitu banyak syafaat dari surah ini, oleh karena itu Rasulullah SAW selalu membacanya sebelum tidur.


------


"Wah, ada yang habis jalan-jalan, nih!" Pagi-pagi sekali Pak Trisna sudah ada di ruanganku. Aku tidak menyangka sebelumnya, dibalik tampang kerennya ia malah seperti ibu-ibu tukang gosip. Masih pagi sudah kelayapan di ruangan orang.


"Ia, dong. Kan kita juga butuh refreshing. Lagian bapak sama pak bos dari mana? Kok nyasar di perumahan?" Aku menatapnya penasaran. 


"Nyasar? Kami sering lewat sana. Kebetulan aja lewat depan rumah kamu. Dan ..., Ciee! Gebetan baru, ya?"


Aku mengangkat alis. "Bapak apa-apaan, sih, bergosip pagi-pagi, mengganggu saja." Aku bergegas berdiri dan membukakan pintu agar dia segera keluar. 


Melihatku seperti itu, ia bergegas keluar dengan senyum usilnya. Pak Trisna ini dihadapan karyawan lain sangat menjaga wibawa. Begitupun saat awal-awal aku bekerja. Sifat aslinya akhirnya muncul juga seiring berjalannya waktu. 


Mengingat kejadian semalam ketika mereka berada di seberang jalan. Pak Rahardian, pria itu hanya melirik sekali ke arahku. Setelahnya ia menyuruh Pak Trisna pergi dari sana.


Sejenak hatiku mencelos. Apa ia sebenci itu padaku? Buru-buru kuhenyakkan pikiran itu. Ia benci atau tidak, aku hanya perlu melakukan pekerjaan dengan baik. Aku tidak dalam posisi yang berhak memikirkan tentang urusan pribadi. Selama aku tidak dipecat, berarti tugasku hanyalah melakukan pekerjaan dengan baik. 


-----


Aku sedang membaca-baca novel di sebuah platform kepenulisan ketika kudengar bel berbunyi. Tak lama kemudian, Bu Zahra mengetok pintu.


"Ada tamu, Mbak!"


"Siapa?" Aku heran, tidak biasanya kami kedatangan tamu. Bisa dibilang ini pertama kalinya. 


"Itu loh, Mbak! Yang waktu itu ngantarin kita pulang."


Ansel? Untuk apa ia ke sini? Aku bergegas mengenakan hijab lalu keluar menemuinya.


Melihatku datang ia menyapa dengan senyum. Ibu dan Salina sudah di sana mengobrol dengannya. Mereka terlihat akrab sekali. 


"Mas?" Aku tidak tau menyapanya dengan basa-basi, jadi hanya kata itu yang bisa kuucapkan 


"Aku tadi main ke tempat keluarga di area sekitar sini jadi sekalian aku mampir."


"Oh, ia, Mas." Kuedarkan pandangan ke meja tamu, di sana berbagai macam makanan terhidang.


"Mas kok repot-repot banget. Beli makanan sebanyak ini."


"Gak apa-apa. Tadi lewatin penjualnya jadi sekalian mampir." 


Aku bingung dengan situasi ini. Sungguh kaku berada di hadapannya. Waktu aku itu berharap tidak pernah bertemu lagi dengannya. Dugaanku, kedepannya masih akan berurusan dengan orang ini. 


"Sali, ayo kita main sama Mbak Rani sama Bu Zahra. Nak Ansel, silahkan mengobrol dengan Kania, ya?" Aku menatap ibu, memberi kode agar tidak beranjak dari tempat itu. Tapi ibu seolah pura-pura tidak mengerti. 


"Oh, iya, Bu." Netraku memindai pria itu. Kesan pertama bertemu dengannya tidak ada bedanya dengan saat ini. Sopan, royal dan penyayang. Hanya yang masih menjadi tanda tanya adalah kehadirannya tiba-tiba. 


Sekian detik kami menjedah waktu dalam hening. Tak ada yang berniat memulai percakapan. Akhirnya Ansel membuka suara.


"Kata ibu, kamu kerja. Kerja di mana?" Ia langsung menguasai keadaan. Lebih rileks ketimbang aku yang notabene di rumah sendiri. 


"Itu ..., Di Manotto Grup." Kucoba mengimbangi keadaan dengan menyambar sepotong terang bulan special yang terhidang di meja. "Ayo, Mas, dimakan." 


"Ya, makasih." Tanpa sengaja tatapan kami bertemu. Dalam hati aku merapal istighfar berkali-kali. Dekat dengan pria ini hanya membuatku salah tingkah. Aku menghindari kemungkinan hal yang bisa terjadi. 


Setelah lepas dari Sandi, aku bertekad untuk fokus bekerja dan merawat Salina saja. Belum terpikir sama sekali untuk dekat dengan pria. Bukannya kepedean dengan sikap baik Ansel. Hanya saja itu bisa saja terjadi, entah aku ataupun dia, tak ada yang pernah tau jika hati bisa berubah.


Aku permisi dulu, Kania. Terima kasih sudah diizinkan bertamu. Salam untuk Ibu dan Salina. Ia pamit setelah mengobrol beberapa saat dan meminta nomor ponselku. 


===


Tiga bulan kemudian ...


Telepon internal kantor berdering. Kania, kamu dipanggil ke ruang Pak Rahardian. Suara pak Trisna dari seberang.


"Baik, Pak! Saya segera ke sana."


Aku sudah terbiasa dengan kegiatan rutin seperti ini. Jabatanku menuntut untuk selalu berinteraksi dengan pemegang kuasa di perusahaan ini. 


"Permisi, Pak." Setelah kejadian dimarahi tanpa alasan tiga bulan lalu, aku membiasakan mengetuk dan meminta izin sebelum masuk ke ruangan Pak Rahardian.


"Silahkan!"


Aku masuk ke ruangannya menunggu instruksi.


"Bagaimana dengan asisten kamu?"


"Perkembangannya bagus. Ia cepat paham, Pak! 


Pak Rahardian manggut-manggut sambil memutar-mutar balpoin yang digenggamnya.


"Jadi, apakah dia sudah bisa mengerjakan hal-hal yang biasanya kamu kerjakan?"


"Benar, Pak!" jawabku singkat.


"Oke. Kalau begitu kamu harus bersiap-siap."


Darahku kembali berdesir. Apa maksud Pak Rahardian? Mengapa ia suka sekali mengatakan sesuatu yang nyaris membuat jantung ingin lepas?


=======

Belum ada Komentar untuk "TAK MAU DISENTUH"

Posting Komentar