RUMAH TANGGA KU HANCUR KARENA IBU DAN ADIK-ADIKKU
[Teh, Wawan belum makan, tadi berangkat kerja kan teteh engga masak]
Ku dapati pesan dari Wawan, adik bungsu ku yang saat ini tinggal di rumah ku lebih tepatnya rumah suami ku, sebenarnya aku hanya membawa Ibuku untuk tinggal di rumah kami, karena ibu seorang Janda dan sebelumnya Wawan juga sudah mempunyai rumah cicilan.
Tapi karena gaya hidupnya yang hedon, rumah Rumah cicilan Wawan disita oleh Bank, dan kini atas permintaan Ibu Wawan ikut tinggal bersama kami, tidak hanya Wawan, tapi sepupuku Ikhsan juga ikut tinggal dirumah.
begitulah Wawan, setiap tidak punya uang pasti langsung minta bantuan ku, padahal aku hanya seorang ibu rumah tangga dengan penghasilan pas-pasan yang harus menafkahi empat orang anak tiga di antaranya masih balita. Setiap gajian tiba Wawan hanya memberi seratus ribu sebulan itupun pada Ibuku, dan untuk masalah perut, air, listrik semua itu adalah tugas ku.
“Erna, barusan Wawan telepon Ibu, katanya dia engga ada uang buat makan siang, kamu tolong transferin dulu kasian lho Wawan” ucap ibu dari balik dapur, ya begitulah Wawan, jika aku tidak membaca atau membalas pesannya suah pasti dia mengadu pada Ibu kami.
“Erna lagi engga ada uang bu, Listrik juga sebentar lagi habis, lagi pula Wawan itu masih bujangan, belum ada tanggungan, kan dia baru gajian lima hari yang lalu”
PRANGGGGGG terdengar suara penggorengan yang setengah di banting dari dapur
“ kamu sama adik aja pelit kebangetan sih, wajar aja Wawan banyak kebutuhan namanya juga anak muda, banyak yang pingin dia coba” pekik Ibu, kalau sudah begitu sebelum keinginannya di penuhi, aku bagaikan anak tiri dirumah ku sendiri.
Oya adik ku yang lain juga acap kali menjadi alas an pertengkaran aku dan ibu, memang Irna tidak tinggal dirumah ku karena sudah bersuami, tapi Irna membeli rumah persis bersebrangan dengan rumahku, dan anak-anaknya selalu di titipkan pada ibu, terpaksa aku juga yang harus memikirkan gizi ketiga keponakan bukan aku tidak ikhlas, hanya saja aku juga belum berkecukupan,belum lagi Irna dan suaminya juga lebih sering meminta lauk dari kami.
Terkadang aku malu jika di tanyai perihal uang belanja yang suamiku beikan, jumlahnya tidak sedikit, bahkan sebenarnya sisa uang belanja bisa kami pakai untuk mencicil mobil, tapi aku malah selalu kekurangan. Contohnya begini..
“Pah, uang mamah sudah habis, kemarin mamah bayar air, listrik dan beli beras” kata ku kepada suami..
“yah Mah masa beras duapuluh lima kilo habis dalam duaminggu, gajian papah kan masih lama, ini ada seratus ribu , tolong mamah hemat-hemat ya, nanti sore masakin Papa jengkol goreng sambal dan ikan asin”. Akhirnya suami ku memberikan uang selembaran merah tersebut.
Tapi….
“Ernaaaaaa!!!! mau belanja engga sini biar ibu kewaung” ucap ibuku
“iya Bu, Papanya Kania minta di masakin Jengkol dan ikan asin” aku yang kerepotan menyusui memberikan uang itu pada Ibu.
Betapa terkejutnya aku saat Ibu datang membawa 8 bungkus nasi uduk dengan laukpauk yang komplit, lalu di sajikannya di meja makan, setelah itu Ibu memanggil anak-anak Irna juga Wawan dan Ikhsan untuk makan, sedangkan aku? Minum air putih saja belum sempat.
Siang harinya ...
“Ernaaaa,,, itu ada tukang sayur katanya mau beli Jengkol” teriak ibu dari halaman..
“kan tadi uangnya sudah sama ibu” aku menjawab agak keras dari ruang tamu.
Ibu buru-buru menghampiri ku “ Erna, uang tadikan sudah Ibu belikan nasi uduk untuk Wawan, Ikhsan, Irna, Ibu dan keponakan keponakan kamu, cepetan mana uangnya itu tukang sayur udah nunggu”
Astagfirullaah,,, ingin rasanya aku menjerit dengan keadaan ini,,
“mang ujang maaf sepertinya saya engga jadi belanja” ucap ku pada tukang sayur keliling, mang ujang sudah tau kebiasaan ibu yang selalu belanja bahan masakan enak tapi bukan untuk ku, melainkan untuk Irna atau Wawan.
“yaudah atuh neng Erna, ini di bawa aja dulu, uangnya besok-besok engga apa-apa” mang ujang memberi ku Hutang sayuran lagi, terllalu sering bahkan.
“tiiinn tinn tinn”
“aduh Irna beli mobil baru, liat tuh Erna, suaminya Irna mah udah beliin mobil buat anak istrinya” wajah ibu sumringah menceritakan mobil baru yang di beli Irna,
“irna kamu bisa beli mobil? Hutang kamu yang dua juta pada ku tahun lalu belum kamu bayar? Juga pada Riska tetangga sebelah katanya kamu ada hutang satu juta kemarin orangnya datang menagih pada ku” aku menegur Irna, yang lalai dalam mengembalikan hutang tapi bisa membeli barang lain.
“ehh Erna, uang yang di pakai adik kok di jadikan hutang sih, engga baik itu, lagi pasti habis ini Irna nanggung cicilan, jadi berat dong buat bayar ke Bu Riska, nanti kalau suami kamu gajian tolong di bantu lah adik kamu ini” lagi lagi ibu membela Irna dan Wawan.
Belum lagi ketika aku memarahi anak ku Raka yang tidak mau sekolah pasti ibu membelanya habis-habisan, yang terjadi sekarang Raka sulungku tumbuh menjadi anak pebangkakng dan nakal sekali.
Kadang saat teman-teman ku yang datang berkunjung membawakan makanan untuk ku dan anak-anakku sampai kapok karena ketika mereka datang ibu langsung mmengambil buahtangan mereka dan memanggil keponakan- keponakanku terlebih dahulu, juga memisahkan makanan untuk disantap Wawan, bahkan ketika aku dan teman-teman ku sedang makan bersama, ibu buru-buru mengambil piring "pisahin ini lah ayamnya buat Wawan nanti pulang kerja, buat Irna juga, eh anak-anak Irna jg belum makan".malunya aku dengan kelakuan ibu..
Suamiku sering mengeluhkan masalah keuangan yang tidak pernah cukup padahal jika hanya menghidupi Ibu, penghasilan suami ku masih cukup, suami kupun sering tidur dalam keadaan Lapar karena dirumah sudah tidak ada makanan dan mau beli di luar sudah tidak ada uang.. alternatif lain beli mie instan itupun jika aku membeli satu kardus, baru satu hari sudah tinggal tiga bungkus, karena yanglainnya sudah pindah ke dapur Irna.
Akhirnya karena terlalu sering menanggung beban hutang, dari hasil gaji suami ku, suami ku tidak lagi mempercayakan keuangan kepadaku, aku di buat pusing tujuh keliling.
Aku pun mencari sampingan berdagang kecil-kecilan agar bisa mencukupi semuanya, tapi yang terjadi suami ku ujung-ujungnya suaniku berselingkuh, dengan alas an aku kurang memperhatikannya, tidak pernah menyediakan makanan yang layak untuknya, suka marah-marah terhadap anak-ananya saat lelah.
Entahlah setelah ini aku harus berbuat apa? Saat ini aku sedang menjalani proses perceraian, tapi tidak satupun diantara keluargaku ini mau membantuku minimal, bahkan untuk soal makanan, mereka seakan tidak peduli kalau saat ini aku tengah kesulitan membiayai anak anak ku.
Based on true story..
Terimakasih Like dan komennya 🥰

Belum ada Komentar untuk "RUMAH TANGGA KU HANCUR KARENA IBU DAN ADIK-ADIKKU"
Posting Komentar