Simpan Saja Sesalmu, Mas
Aku berjalan kalau bersama mamah untuk sampai ke rumahnya. Letaknya tidak terlalu jauh, hanya saja harus sedikit berputar karena rumah mamah ada di belakang rumah mas Hilman. Meskipun masih satu komplek perumahan, tapi beda barisan.
Begitu sampai di rumah mamah, aku segera merebahkan tubuhku di sofa. Tiba-tiba kepalaku rasanya pusing sekali, mungkin karena terlalu memikirkan masalahku dengan mas Hilman. Aku memijit pelan pelipisku hingga pangkal hidung, agar pusing sedikit berkurang.
"Ra, yakin gak mau ke dokter?" Mukamu itu pucat banget loh."
"Gak usah, Mah. Mungkin Aira cuma kecapean. Dibawa tidur juga InsyaAllah mendingan."
"Ya udah kalau begitu kami istirahat di kamar sana! Kamu tenang aja, biarpun Hilman anak Mamah tapi mamah gak akan pernah membela kalau dia salah."
Aku mengubah posisiku menjadi duduk, kutatap lekat wajah Mamah yang mulai terlihat sedikit keriput. "Mah, soal mamah tidak mengganggap lagi mas Hilman sebagai anak ... Itu bercanda, kan? Soal mamah ngusir mas Hilman juga--"
"Mamah serius, Ra." Potongnya cepat.
"Untuk apa mamah punya anak laki-laki, yang tidak bisa menjaga perasaan istrinya. Mamah ini wanita, apalagi Mamah juga pernah merasakan ada di posisi kamu. Mamah kecewa sama Hilman, Ra." Beliau mendesah pelan.
"Kalau soal rumah, mamah serius. Itu mamah hadiahkan untuk kalian, kalau kalian berpisah ... Ya balik lagi ke mamah." Ucapnya sambil terkekeh.
"Dia boleh tinggal di sana.. Tapi ya itu, harus bayar biaya sewa." Sambungnya.
"Mah, mas Hilman anak Mamah. Dia punya masalah sama aku, bukan sama Mamah. Jangan hanya karena aku, hubungan anak dan ibu menjadi renggang."
"Mamah gak mau kehilangan kamu, Ra. Kamu sudah seperti anak Mamah sendiri. Tidurlah, istirahat, ini sudah malam." Mamah pergi terlebih dahulu ke kamar, meninggalkan aku sendirian.
Aku pun masuk ke kamar, merebahkan tubuhku di atas kasur. Menatap langit-langit kamar, pikiranku menerawang jauh ke masa-masa saat mengenal mas Hilman.
Dulu, mas Hilman sangat gencar mendekati aku dengan segala perhatiannya. Dia memang bukan laki-laki romantis, tapi dia juga tidak terlalu cuek. Satu yang aku suka dari mas Hilman, dia begitu menyayangi mamahnya.
Aku pikir, berkaca dari pengalaman mamahnya dulu, mas Hilman tidak mungkin berani menyakiti hati wanita. Tapi nyatanya apa? Dia pun bisa tega berbuat seperti itu.
***
Entah pukul berapa semalam aku tertidur, pagi ini ini aku bangun saat mendengar kumandang adzan Subuh. Gegas diri ini ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, dan bersiap menunaikan kewajibanku kepada sang Khalik.
Selepas salat aku masih ingin berlama-lama di atas sajadah, mengadukan setiap masalah yang sedang di hadapi, beban yang terasa menghimpit hati. Aku mengambil mushaf lalu membaca setiap huruf demi hurufnya.
Allah, maaf jika nantinya aku akan mengambil jalan yang Engkau benci meskipun masih dihalalkan. Aku tidak bisa bersama dengan pria yang hatinya sudah terbagi, karena aku bukan perempuan sekuat itu. Apalagi dia sudah berzina dengan perempuan itu, melakukan sesuatu sudah jelas haram. Meski aku akui di lubuk hati yang paling dalam namanya masih bertahta di singgasana ini.
Allah, semua ujian ini tidak luput dari semua salah dan dosa yang pernah hamba lakukan dahulu. Mungkin ada dosa dan salah yang belum sempat hamba mohonkan ampunan.
Ya Allah, hamba sadar sekarang jika cinta hamba kepada makhluk melebihi cinta hamba kepadaMu. Hamba sadar, cinta hamba kepada mas Hilman begitu besar atau mungkin terlalu besar sehingga inilah bentuk teguran dariMu.
Setelah puas mengadu, aku melepaskan mukenah yang melekat di tubuhku. Kemudian aku mempersiapkan berkas-berkas yang harus aku bawa ke pengadilan. Hari ini, aku akan mendaftar gugatan cerai.
Jauh hari semenjak mengetahui perselingkuhan mas Hilman, aku sudah menanyakan beberapa syaratnya kepada temanku yang pernah bercerai juga, atau yang paham betul soal perceraian. InsyaAllah, penjelasan dari mereka sudah cukup dimengerti untuk setiap tahap demi tahapnya. Dengan bukti kuat yang kupunya sepertinya aku bisa bisa mengurus semuanya sendiri, dan semoga prosesnya berjalan lancar.
Tok. Tok. Tok.
"Aira, kamu sudah bangun?"
Aku membereskan semua berkas dan segera berjalan menuju pintu, begitu membukanya terlihat mamah sedang berdiri di depan sana.
"Udah, Mah."
"Kamu udah rapi? Mau kemana?"
"Mau ke pengadilan Agama, Mah."
Mamah menghela nafas pelan. "Sarapan dulu, yuk! Mamah lihat dari semalam kamu belum makan?"
"Bikin apa, Mah."
"Nasi goreng." Ucapnya sambil terkekeh. Mendengar nama nasi goreng, aku kembali teringat mas Hilman. Menu sarapan setiap pagi, yang selalu aku masak selama tiga tahun belakangan. Membayangkannya saja aku bosan.
"Gak usah di inget-inget, Ra!" Ketus mamah.
"Mah, yang di selingkuhi itu aku, kok yang kesel Mamah?"
"Masih aja nanya, kamu itu udah seperti anak Mamah sendiri. Nanya sekali lagi Mamah jewer telinga kamu, Ra."
Aku terkekeh. "Mah, gak bosen sarapan nasi goreng terus?"
"Bosen sih, tapi masalahnya gak ada bahan buat di masak. Mamah belum sempat belanja."
"Ikut Aira! Kita sarapan lontong sayur aja di ujung gang sana."
"Tapi, pulang dari sana Aira mau langsung ke pengadilan Agama, untuk mendaftar gugatan cerai, Mah." Sambungku.
"Mamah temani, ya?" Aku mengangguk.
***
Sepulang sarapan tadi, aku langsung pergi ke Pengadilan Agama bersama mamah menggunakan taksi online. Mamah menemani dan mendukung semua keputusanku. Meskipun harus menunggu cukup lama dan sedikit berbelit, tapi aku mengikuti semua prosesnya hingga mendapatkan nomor perkara.
Aku sudah mendaftar dan memasukkan berkas perceraianku ke pengadilan Agama. Tinggal menunggu jadwal, dan surat panggilan untuk sidang pertama. Surat panggilan nanti akan di kirimkan ke rumah mamah dan rumah mas Hilman.
Lega? Tentu saja. Aku berharap akan segera terbebas dari laki-laki seperti mas Hilman. Lihat saja, dia atau aku yang akan menyesal. Setelah urusanku beres, mamah segera mengajakku untuk kembali pulang ke rumah.
Saat turun dari taksi online, dan akan memasuki rumah. Aku dan mamah melihat beberapa ibu-ibu yang sedang berkumpul melihat ke arah kami.
"Aira, yang sabar, ya. Saya doakan kamu mendapatkan ganti yang lebih baik lagi."
"Iya, Ra. Saya sebenarnya gak nyangka Hilman kok tega berbuat seperti itu." Ucap seseorang yang lain.
Aku melirik mamah sekilas, beliau terlihat santai saja, tidak menggubris perkataan para tetangga. Sebenarnya aku takut mamah marah, tapi ternyata tidak.
Mamah bilang, yang dikatain itu mas Hilman, bukan mamah. Jadi untuk apa mamah marah? Toh yang mereka semua katakan itu memang benar, mas Hilman selingkuh di belakangku.
***
"Rencana kamu setelah ini apa, Ra?" Tanya mamah di sela-sela acara memasak kami.
"Mungkin mau cari kerja, Mah. Dan cari tempat tinggal yang lain. Gak mungkin, kan Aira menyusahkan Mamah terus?"
Gerakan mamah yang sedang memotong sayur terhenti, dia beralih menatap lekat mataku, sangat lekat. Ada sorot yang tidak bisa aku jelaskan begitu melihat tatapan matanya. "Apa itu artinya kamu akan meninggalkan mamah, Ra?"
Aku tersenyum tipis, sampai kapan pun aku akan tetap menganggap mamah seperti ibu kandungku sendiri. Dia begitu menyayangi aku selama ini, rasanya tidak bisa meninggalkan mamah begitu saja.
"Mamah akan tetap menjadi mamahnya Aira, sampai kapanpun."
"Jangan pergi dari sini, tinggal lah dengan Mamah."
"Tapi, Mah."
"Mamah gak akan membiarkan Hilman masuk ke rumah ini, Mamah jamin, Ra. Sejak dulu Mamah menginginkan anak perempuan, dan begitu melihatmu Mamah sudah langsung jatuh cinta. Makanya mamah dulu minta Hilman buat cepet-cepet nikahin kamu." Mamah kembali bercerita sambil memotong sayuran.
"Kamu juga kan udah gak punya siapa-siapa lagi, kan? Lebih baik kamu temenin mamah di rumah ini."
Iya, mamah benar, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Rumah peninggalan ibu dan bapak sudah dijual, karena waktu itu kami butuh uang untuk membiayai seluruh pengobatan penyakit ibu.
"Baiklah kalau itu yang Mamah mau." Ucapku pada akhirnya.
"Jadi kamu akan tetap tinggal di sini, Ra?" Aku mengangguk.
"Terima kasih, Aira."
"Loh, harusnya Aira yang makasih. Mamah masih ngizinin Aira buat tinggal di sini, makasih banyak."
Mamah tersenyum sekilas, kemudian kembali kembali melanjutkan acara memasak. Saat mamah mulai menumis bumbu, dan wangi bumbu tersebut masuk ke indra penciumanku, tiba-tiba saja aku merasa mual. Aku merasa sesuatu bergejolak dalam perutku, dan meminta untuk di keluarkan.
"Hoekk ... Hoekk...." Aku berlari ke wastafel dan memuntahkan semuanya. Tapi tidak ada yang keluar dari mulutku.
"Hoekk ... Hoekk...." Ugh, mual sekali rasanya. Aku tidak tahan dengan wangi masakan Mamah.
"Aira, kamu kenapa?" Tanya mamah sambil memijit pelan tengkuk leherku. Seperti ini rasanya jauh lebih baik.
"Gak tahu, Mah. Mual banget rasanya."
"Ra, jangan-jangan kamu ....?"
"Apa?"
"Hamil, mungkin?" ucapan mamah terdengar ragu.
Deg.
Hamil?
"Mah, kan Aira selama ini minum pil ...." Astaghfirullah. Aku baru ingat kalau beberapa bulan kemarin aku sempat beberapa kali memuntahkan kembali pil yang aku minum. Cukup sering malah, dan saat itu aku berhubungan badan dengan mas Hilman.
"Aira,"
"Mah," Aku menggeleng.
Saat melangkahkan kaki hendak ke kamar, tiba-tiba aku merasakan kepalaku berputar-putar, pandanganku mulai mengabur. Tubuhku mulai hilang keseimbangan, tapi mamah masih bisa menahannya agar aku tidak terjatuh.
"Aira, kamu kenapa, Ra?"
Aku masih bisa mendengar mamah memanggil namaku, tapi aku tidak bisa menjawabnya. Sedetik kemudian aku merasakan semuanya menggelap, dan aku tidak ingat apa-apa lagi.
-------------------------------EL------------------------------------
Part 9
Aku mengerjapkan mata perlahan. Saat mataku benar-benar terbuka, aku baru sadar kalau diri ini sedang berada di ruangan serba putih. Ini sebuah klinik sepertinya.
"Mah," lirihku pelan. Sepertinya mamah tidak ada di sini.
Ceklek.
Pintu ruang rawat terbuka, mamah datang dengan membawa nampan berisi makanan. Melihatnya saja sudah tidak berselera, kepalaku pusing sekali.
"Kamu sudah bangun, Ra?"
"Aku kenapa, Mah? Seingatku tadi kita lagi masak di dapur."
"Iya, kamu pingsan." Ucap mama yang sudah duduk di kursi sebelahku.
"Mamah yang bawa aku kesini? Sendirian?"
Beliau tertawa. "Dibantu ibu-ibu tetangga, Ra. Naik taksi tadi sama Bu Sri, tapi dia udah pulang. Kamu makan dulu, ya? Kata dokter kamu harus banyak makan. Biar cepat sehat lagi."
"Memangnya Aira kenapa, Mah? Sakit apa?"
"Kamu gak sakit. Tapi ...." Wajahnya berubah sendu. "Kamu hamil, Ra."
Aku tersentak kaget. Tidak tahu harus senang atau sedih mendengar kabar seperti ini. Andai saja aku masih bersama mas Hilman, mungkin aku akan senang sekali. Tapi keadaannya seperti ini, harus bagaimana? Aku menghela nafas pelan. Anak itu rezeki, harus tetap bahagia menerimanya dalam keadaan apapun.
"H-hamil, Mah?"
"Iya, usia kandungannya sudah dua bulan."
Dua bulan? Bagaimana bisa aku tidak menyadari hal ini.
"Kenapa Mamah sedih? Mamah gak mau punya cucu?"
"Gimana Mamah gak sedih, Ra? Kamu hamil saat akan bercerai dengan Hilman. Apa cucu mamah akan lahir tanpa ayah? Hamil itu ada masa sulitnya, Ra. Pengennya di manja sama suami."
"Mah, InsyaAllah Aira gak apa-apa. Aira baik-baik aja meski tanpa mas Hilman. Boleh Aira minta satu hal sama Mamah?"
"Apa? Katakan saja."
"Jangan beri tahu soal kehamilan ini kepada mas Hilman. Biar ini menjadi rahasia kita. Aira gak mau mas Hilman menjadikan alasan kehamilan ini, untuk menolak bercerai dengan Aira."
"Kamu yakin?" Aku mengangguk cepat.
"Semua keputusan ada di tanganmu. Kamu yang berhak menentukan semuanya, Mamah akan selalu mendukung kamu."
"Makasih, Mah." Beliau menarik bibirnya hingga melengkung ke atas.
"Mah, apa Mamah menanyakan soal pil KB kepada dokter? Aira khawatir bayi ini kenapa-kenapa, karena satu bulan belakangan ini Aira masih mengkonsumsi pil itu meskipun gak setiap hari.
"Kata dokternya gak ada yang perlu di khawatirkan, Ra. Bayimu sehat, bahkan detak jantungnya sudah terdengar."
"Benarkah?" Aku terharu sekali mendengarnya.
"Iya. Tadinya dokter menyarankan USG, tapi nunggu kamu sadar aja."
Aku meraba perutku yang masih rata. Benarkah ada kehidupan di dalam sini? Sesuatu yang paling aku nantikan selama tiga tahun ini. Ya Allah, Alhamdulillah.
Tak apa meski tanpa mas Hilman, aku akan tetap membesarkan anak ini seorang diri. Semoga kamu selalu sehat sampai tiba waktunya untuk lahir ke dunia ini. Mamah akan merawat dan menjagamu.
"Makan dulu, Ra."
"Gak nafsu, Mah."
"Maunya apa?"
Aku berpikir sejenak. Tiba-tiba terbayang betapa enaknya soto ayam buatan mamah, gurih kuahnya benar-benar terasa di lidah.
"Soto ayam buatan Mamah."
"Haish, itu mah harus masak dulu. Yang ada aja dulu, anak kamu butuh makan."
"Tapi nanti sampe rumah masakin soto."
"Iya. Tapi kamu jangan jadikan kehamilan ini buat ngerjain Mamah, ya! Nanti seenaknya minta ini dan itu."
Untuk sesaat kami saling pandang, kemudian ....
"Hahaha." Kami tertawa bersama. Bahagianya memiliki mertua sebaik mamah, dan bisa di ajak bercanda seperti ini. Rasa kehilangan ibu benar-benar tergantikan dengan adanya mamah, beliau selalu baik padaku.
Meski begitu, baik ibu maupun mamah sama-sama tidak bisa saling menggantikan. Mereka mempunyai tempat tersendiri di hatiku. Keduanya sama-sama wanita hebat, semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk ibu dan ayah di sisinya.
***
Setelah dirawat dua hari di klinik, hari ini akun di perbolehkan pulang karena kondisi sudah jauh lebih baik. Ada beberapa tetangga yang mengatakan kalau kemarin Mas Hilman datang kesini mencariku dan Mamah. Alih-alih memberi tahu aku sedang di klinik, ibu-ibu yang melihat mas Hilman malah berbalik menyerangnya dan menyuruhnya pergi.
Aku juga sudah mendengar kabar pernikahan mas Hilman dan Anita yang dilaksanakan secara siri di rumah mas Hilman. Terserah mereka mau melakukan apa, aku sudah tidak peduli.
Setelah selesai memasak semuanya, aku mencari mamah ke setiap sudut ruangan, tapi gak ada. Soal ngidam soto benar-benar gagal total. Aku selalu mual saat mencium bumbu masakan mamah, tapi tidak dengan bumbu masakanku sendiri. Alhasil, aku yang memasak.
"Mah, Aira cari kerja ya?" Ucapku saat sudah melihat mamah.
Gerakan tangan mamah yang sedang mencabuti rumput terhenti, kemudian beliau menghampiriku yang sedang duduk di teras. Setelah mencari-cari, ternyata mamah sedang mencabuti rumput di taman minimalisnya.
Kemarin saat di rumah sakit, aku sudah melakukan USG dan ternyata kandunganku sudah berusia sembilan Minggu. Aku jadi kepikiran untuk biaya persalinan nantinya, tidak mungkin aku mengandalkan mamah.
Tabunganku tidak banyak, pergi dari rumah mas Hilman pun tidak membawa apa-apa. Aku hanya ingin menunjukkan kalau aku juga bisa hidup tanpa nafkah darinya. Tapi, kalau aku tidak bekerja uang tabunganku akan habis untuk biaya hidup.
"Kerja apa? Kamu kan lagi hamil, Ra. Nanti kalau kecapean gimana?"
"Aira gak apa-apa, Mah. InsyaAllah masih kuat kalau dibawa kerja."
"Sebenarnya kalau untuk hidup kita berdua, uang pensiunan mamah juga masih cukup. Mamah juga masih punya tabungan, kamu gak perlu khawatir."
"Itu uang Mamah, simpan aja. Aira biar mencari pekerjaan yang lain, InsyaAllah bisa."
"Terserah kamu saja, Ra. Tapi kalau gak kuat, atau kecapean, jangan dipaksakan. Kasihan cucu mamah."
"Siap bos."
"Bentar deh, Ra. Apa gak kepengen buka usaha aja gitu? Apa kek sesuai keahlian atau hobi kamu. InsyaAllah mamah ada kalau buat modal awal."
"Tapi, Mah--"
"Mamah kasih pinjam, kamu bisa menggantinya kalau usaha kamu udah maju. Kalau usaha sendiri kan enak, Ra. Jam kerjanya bisa kita yang tentuin sendiri, jadi kamu gak kecapean."
Usaha? Bingung juga mau usaha apa. Apalagi kalau mulai dari nol, itu harus siap mental. Tidak semua usaha bisa mulus dan langsung berhasil, kita juga harus siap untuk gagal.
Sedangkan keahlian aku hanya menjahit. Buka usaha jahitan? Sepertinya tidak semudah yang dibayangkan. Beda dengan kerja, tidak ada resiko gagal. Cukup kerja dan mendapatkan gaji.
***
Hari ini, aku mencoba untuk cari kerja. Aku juga meminta tolong kepada Vina supaya mengabariku kalau ada lowongan pekerjaan, tentu yang memperbolehkan wanita hamil bekerja.
Sebenarnya kata Vina, pak Surya masih akan menerima kalau aku masih mau bekerja dan menempati posisi yang sama seperti dulu. Tapi, untuk kembali ke tempat itu rasanya masih setengah hati. Kalau ada, lebih baik aku cari pekerjaan di tempat lain.
Lelah setelah seharian pergi kesana kemari untuk mencari pekerjaan, belum ada satu pun perusahaan yang bisa menerima wanita hamil, apalagi ijazahku hanya SMA. Dulu, aku diterima karena fresh graduate juga good looking. Tapi sekarang? Yang lebih muda dan lebih tinggi pendidikannya juga banyak.
Aku mampir ke kafe sebentar, untuk sekedar menghilangkan rasa haus di tenggorokan. Sejak aku masuk tadi, beberapa orang terus memperhatikan aku. Mereka terlihat saling berbisik, entahlah aku tidak mengerti.
Satu gelas jus jeruk segera aku minum untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering. Sepertinya cari kerja aku lanjutkan lagi besok saja.
"Aira." Sapa seseorang di sampingku. Aku mendongak, seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan wajah yang cukup rupawan terus memperhatikan aku.
"Maaf, siapa, ya?"
"Kamu Aira Apriliani?" Aku mengangguk. Dia menarik kursi di sebelahku, kemudian duduk dan kembali menatapku.
Tunggu.
Sepertinya aku mengenalinya.
"Denis?"
Dia mengangguk. "Masih mengenaliku rupanya. Apa kabar?"
"Baik."
Denis adalah mantanku dulu saat masih sekolah SMA. Kami berhubungan sekitar satu tahun, dan putus setelah lulus. Setelah itu aku tidak pernah lagi pacaran, karena aku baru tahu kalau pacaran itu ternyata dosa.
Makanya, setelah bertemu dengan mas Hilman dan merasa cocok, aku langsung mau saat dia mengajakku menikah. Denis mantanku satu-satunya, mantan cinta monyet dulu. Tidak ada hal yang serius, hanya untuk asik-asikan saja.
"Kamu ngapain di sini sambil bawa-bawa itu?" Dia menunjuk amplop coklat yang ada di atas meja.
"Lagi nyari kerja, tapi gak dapet-dapet." Ucapku lesu.
"Mau kerja apa memangnya?"
"Aku mah apa aja, yang penting halal, bisa bekerja dan tidak mempermasalahkan kehamilan aku."
"Kehamilan? Kamu udah nikah? Dan lagi hamil?"
"Iya, kamu sih gak ada kabar. Jadi gak tahu kabar yang lain gimana. Kamu sendiri udah nikah?"
Dia menggeleng. "Belum, Ra."
"Ngomong-ngomong, kalau kamu udah nikah kenapa kamu mau cari kerja dalam keadaan hamil seperti ini? Memangnya suami kamu kemana?"
Saat aku akan menjawab pertanyaan Denis, aku melihat mas Hilman dan Anita baru saja melewati pintu masuk kafe ini. Jangan sampai mereka melihatku dengan laki-laki lain, aku juga masih malas menemui mereka.
"Aku pergi dulu, Den. Permisi, Assalamualaikum."
Sepertinya biasa pesannya, mohon maaf gak bisa balas komentar satu persatu. Lagi momong anak bayi 😀
Tetap jaga kesehatan semuanya

Belum ada Komentar untuk "Simpan Saja Sesalmu, Mas"
Posting Komentar