Menyesal sampai ke ubun-ubun
Wow, sungguh Diana membuatku pangling. Baru satu bulan berpisah, ternyata ia kembali ke Masdiana Larasati yang baru pertama kali kukenal. Bahkan, bodi nya jauh lebih aduhai. Depan belakang padat berisi mirip artis meksiko Thalia pemeran Marimar. Auwww!!
Tapi, waktu bertemu antara aku dan dirinya kurang tepat. Kenapa disaat aku dan Fiola sedang memadu kasih, Dee hadir dengan tanpa basa-basi dan bahkan dia mengancam ingin bercerai.
Daripada melihat Dee sedang mengeluarkan amarahnya lebih baik aku meninggalkan restoran khas Sunda tersebut. Nanti malam aku yakin amarah Dee sudah mereda dan bisa diajak bicara baik-baik.
"Mas!! Dia itu siapa kamu?" Ucap Fiola sesaat setelah berada di dalam mobil.
"Istri ku," Jawabku tegas. Kalau sekarang gak perlu malu lagi untuk bilang dan mengatakan kepada siapa pun. Istri ku telah kembali menjadi sosok bidadari yang seperti saat ia gadis.
"Istri mu? Katanya istri Mas kayak kebo. Kumel, rambut diiket seenaknya dan gak suka dandan. Tapi ... Tadi itu bukan seperti yang saku lihat di foto dan Mas bilang."
Fiola melipat kedua tangan nya di depan dada sambil wajahnya mengerucut seperti jeruk muda. Asem!! Kecut!! Bodo amat.
"Iya, dia istriku!! Terserah mau percaya apa nggak. Aslinya memang dia itu cantik, Fiola."
Lalu suasana diantara aku dan Fiola hening. Biarin lah, dia dengan pikirannya sendiri dan aku dengan pikiranku tentang Diana. Wajah nanti ayu dan bodinya bikin keperkasaan ku berada di puncak.
'Malam ini akan kudapatkan kamu kembali Dee!! Ku buat kau klepek-klepek. Hahahah!!'
"Mas!! Ngapain ketawa-ketawa sendiri!! Mas lagi ngebayangin siapa?! Ngebayangin wanita tadi ya?" Ucap Fiola. Dan aku refleks mengangguk. Dia pun bertambah kesal. Kalau begini, mau gimana lagi. Perasaan kan gak bisa dibohongi.
"Mas, dia itu kekasih baru mu kan? Ngaku?! Pake segala bilang dia istri mu. Apa kamu udah bosan sama aku?! Aku kurang apa sih. Keperwananku suda kamu dapat, tubuhku, seluruhnya hanya untukmu, Mas."
Aku hanya melirik. Dan menjawab enteng. "Salah sendiri. Kenapa mau saja melepas keperawanan selain dengan suami kamu, La. Lagian, cukup adil. Aku rogoh kocek dalam buat kamu. Ya harus ada timbal baliknya dong. Hahaha, kita senang sama senang. Bukan kah begitu?!" Ucapku.
Fiola menunduk. Apa yang dia pikirkan? Lalu air mata menetes dari sudut matanya. Cengeng!! Bukankah dia yang menyerahkan tubuhnya sendiri. Lantas, jangan paksa aku untuk menikahinya. Mana mau ku nikahi wanita tidak baik-baik. Kasihan nanti anakku, ibunya seorang perempuan murahan!!
Ah, lebih baik memikirkan bagaimana caranya aku bisa bertemu kembali dengan Diana istriku tercinta.
Untung saja aku malas pergi ke pengadilan agama. Rupanya Tuhan punya maksud. Aku masih ada jodoh dengannya.
Atau, nanti malam aku bertemu lagi dengannya ya? Pasti akan kudapat lagi Dee ku. Sudah tak sabar hasrat ini untuk segera bersanding kembali dengannya. Pertama yang akan kulakukan adalah meminta maaf kepadanya.
Iya, kurasa waktu yang tepat untuk meminta maaf padanya adalah nanti malam. Tapi, untuk sekedar berjaga-jaga kalau Dee tidak mendengarkan aku akan kubawa juga ibu. Dialah tameng kapan pun aku membutuhkan dirinya.
"Mas!! Turunkan aku disini. Aku mau pulang sendiri," Ucap Fiola mengagetkan dan membuyarkan lamunanku.
Langsung ku hentikan mobil sedan warna hitam metalic di tepi jalanan patung kuda berada. Biarin saja. Toh dia yang minta.
Saat mobil berhenti Fiola malah melihatku seperti tak percaya.
"Mas!! Kamu jahat. Aku gak suka kamu giniin! Jahaatttt ....," Ucapnya sembari membuka dan menutup pintu mobilku dengan kasar.
Kenapa sih sama dia? Cewek memang ribet!! Dia yang minta turun kok aku yang dibilang jahat?! Memang aneh!
Oke, lebih baik Fiola tidak usah dipikirkan dulu. Biar saja dia mau kemana, aku tidak perduli. Yang aku perdulikan sekarang Dee.
Segera ku pacu mobil sedan menuju rumah ibu. Ibu senjata pamungkas dalam beraksi meminta Dee untuk kembali ke pelukan.
Setelah memarkirkan mobil kesayangan di tepi jalan depan rumah ibu, aku masuk dan segera mencarinya.
"Rin, Ibu mana?" Tanya ku ke Rina, adik bontot yang masih duduk di sekolah SMK.
"Gak tau. Mau ngapain emangnya Mas? Kayak penting banget," Ucapnya memperhatikan gerak-gerik Mas nya.
"Penting. Makanya mana?" Ucapku lagi. Ibu dicari kemana-mana gak ada nampak batang hidungnya sama sekali.
"Gocap dulu sini, nanti Rina kasih tahu ibu lagi dimana?" Sambil ia menyodorkan tangannya. Dasar adik lucknut!! Terpaksa lah keluar lembaran biru selembar.
"Nih, mana ibu?" Aku menanyakan kembali. Dan segera Rina merampas uang biru yang berada di genggaman. Lalu menunjuk ke arah sofa yang kepalanya membelakangi kami.
"Tuh Ibu!! Lagi bocan disana. Makanya nyari tuh pake mulut juga. Ibuuu!!" Teriaknya dan memang benar. Ibu segera bangun masih dengan mengerjapkan matanya.
"Ada apa Rin? Bangunin Ibu kayak mau ada kebakaran aja!!"
"Tuh, anak mami, Ibu. Pengen nyusu!! Hahahaa," Ucapnya ringan sambil lari masuk ke dalam kamar. Rasanya pengen dipites tuh anak satu. Bau kencur tapi ngeledekin mas nya terus.
"Ada apa Dit? Tumben pulang cepat, emangnya lagi senggang kerjaan kamu?" Tanya nya heran.
Aku jelaskan maksud ku kepada Ibu. Ia mendengarkan dengan seksama dan sesekali diam seperti berpikir.
Tapi kelihatannya ibu agak berat untuk melangkah ke rumah Dee. Kalau tidak ku imingi cincin emas lima gram, tak mau ibu pergi ke rumah Dee. Dengan alasan ucapan yang telah kubuat waktu itu!
"Kamu ini anak laki, Dito!! Kenapa kamu jilat ludah mu lagi?! Malu!! Makanya kalau mau bertindak itu dipikirkan terlebih dahulu. Jangan gegabah dan bikin malu dirimu sendiri dan keluarga mu!!"
Aku hanya menunduk. Bukan mendengarkan dan iya iya saja! Hanya karena biar cepat selesai dan segera bisa bertemu bidadari ku kembali.
"Bagaimana kalau Dee nolak kamu, Dit? Apa gak malu. Mau ditaruh dimana muka mu itu. Lagian, apa sih yang pantas dipertahankan dari Dee? Dimas? Kamu kan bisa minta ketemu sama anakmu sendiri kalo kangen. Gak perlu pake balikkan lagi sama Dee yang cuma wanita rumahan saja."
Ah Ibu, andai ia tahu bahwa Dee telah jauh berubah. Mungkin ibu akan berpikir dua kali dan menarik ucapannya.
"Bu, Dee sudah berubah. Dia gak seperti yang ibu lihat selama ini. Dee semakin cantik, pokoknya gak malu-maluin lagi lah."
"Ya sudah. Tapi janji ya!! Beliin ibu cincin emas 5 gram. Jangan bohong Dit," Ucapnya mewanti-wanti juga.
"Eh, Dito. Tapi apa Dee mau sama kamu lagi?" Ucap ibu.
"Nggak lah Bu. Kalau mba Dee sekarang langsing, mas Dito bukan levelnya!!" Ucap Rina dari balik pintu kamar lalu segera ia tutup kembali.
"Woiii, adik laknat kamu ya!! Bukannya support kakaknya malahan jatuhin." Aku berteriak kesal sambil menggedor pintunya.
"Salah sendiri, giliran langsing aja di dempet lagi. Aku berani bertaruh mba Dee gak bakalan nerima kamu lagi Mas!!" Ucapnya enteng. Dasar adik kurang ajar.
"Oohh, jadi kamu nantangin Mas, Rin? Oke. Kalau kalah kamu harus mencium kedua kaki Mas Dito sambil teriak-teriak dijalan, gimana?" Ucapku bertaruh Dee akan menerima ku kembali.
"Siapa takut, tapi kalau ternyata mba Dee menolak Mas Dito, kasih aku uang satu juta."
Ucap Rina sambil membuka pintu kamarnya.
"Cuma satu juta? Dua puluh juta pun aku berani bertaruh Rin."
"Kepedean!!"
***********
Sekarang aku dan ibu sudah berdiri di depan rumah Dee. Ku ketuk pintu nya perlahan. Dan Dee ternyata tak berapa lama membukanya.
Lihat wajah cantiknya mengintip dibalik gordeng sepertinya ia memang menantikan ku. Ohh Dee, sungguh ingin sekali diriku memeluk tubuh mu yang sintal.
"Silahkan masuk Mas, Bu," Ucapnya ramah. Membuat darahku berdesir hangat.
"Hai, gimana kabar kamu, Dee?" Ucap ku yang ingin sekali bertanya. Menatap mesra dirinya penuh gelora membara.
"Seperti yang Mas lihat. Aku baik-baik aja dan pun Dimas," Ucapnya. Walau tanpa senyuman, aku tahu Dee masih menyayangiku. Hanya saja ia masih gengsi untuk bersikap.
Aku selalu berkata dengan pujian, tapi kenapa dia tidak membalas dengan memuji ku juga? Atau memang ia masih malu.
"Mas, sebaiknya langsung saja bicaranya. Aku minta kamu urus perceraian kita secepatnya!!" Ucapnya tegas. Mata ku terbelalak. Dia ngomong sadar gak sih? Atau memang Dee masih marah sama aku?
Gak bisa. Aku harus merayu nya dengan segala cara. Sampai bersujud dibawah kakinya pun aku rela asal bisa kembali dengannya. Merajut asa kembali.
Namun entah kenapa Dee masih saja tetap pada pendiriannya. Sampai hati ku retak, apa dia tidak ingat bahwa aku lah ayah dari anaknya. Dimas putra andito.
Baiklah, malam ini aku boleh keluar lagi dari rumah kamu, Dee. Tapi tidak dengan diam dan menyerah. Akan ku buktikan bahwa aku memang benar menyesal sampai ke ubun-ubun. Aku ... Aku jatuh cinta kembali dengan Dee.
Segala cara akan ku lakukan untuk merebut kembali berlian ku. Tak akan kubiarkan kamu dengan pria lain. Tak sudi dan tak ikhlas sampai kapan pun! Kamu milikku, ikatan cinta kita Dimas, Dee.
"Lihat saja Dee, suatu hari akan ada kejutan yang manis untukmu. Karena kamu tega menolakku!"
**********
Dogh dogh dogh
Aku menggedor pintu. Lama sekali dia membuka pintunya.
"Fiola!! Fiola!!" Ucapku keras. Tak perduli, tetangga apartemen Fiola terganggu atau tidak. Yang terpenting hasratku yang tak tercapai kepada Dee tersalurkan.
"Apa!!" Ucapnya merajuk. Masa bodo dia sedang marah atau tidak. Langsung saja ku gendong Fiola dan menjamah tubuhnya liar, dirinya sedikit berontak malah membuatku tambah bergelora.
Yang penting malam ini hasrat ku tersalurkan. Tak kuperdulikan isakkan tangisan dirinya.
"Kamu tega sama aku, Mas!" Lirih nya. Halah, wanita murahan macam dia mana ku perdulikan.
"Kamu sudah ambil uangku banyak La. Dan diam saja, gak perlu banyak bicara."
Ku benarkan ikat pinggang dan segera memakai kemeja biru dongker pemberian Dee. Sengaja kupakai saat tadi ke rumahnya, namun dia tetap tak memperdulikan ku.
"Mas, kamu mau kemana lagi? Begini caramu sama aku? Setelah puas, lalu kamu tinggalin aku begitu aja, Mas?!!"
"Sudahlah, yang penting bagi mu uang kan? Dan bagiku, tubuh mu, Fiola. Kita melakukannya karena kebutuhan masing-masing!!"
Kutinggalkan dirinya begitu saja di atas dipan tanpa selembar benang pun menutupi tubuhnya.
"Aku muak dengan diriku sendiri. Aku menyesal Dee ... Telah melepaskan bidadari secantik dirimu. Kamu curang Dee!! Saat sama aku bentuk mu sekarung. Sekarang, kamu menggemaskan, sayang."
Biar saja langit malam melihat bahwa aku, Dito sedang menyesallllll ... Menyesal sampai ke ubun-ubun!!
Muak tak dianggap lagi oleh Dee. Bahkan sampai mempermalukan diriku dengan bersujud pun tak dia gubris!!
Aku menyesal, tapi tak akan tinggal diam. Lihat saja Dee, kartu As mu ada di tangan ku!
Bersambung

Belum ada Komentar untuk "Menyesal sampai ke ubun-ubun"
Posting Komentar