Suami Pelit Tanda Tak Setia
"Bang, minta duit dong buat isi token." Listriknya mati. Pintaku sama bang Ahmad sambil melentangkan tangan.
"Maaf dek, abang tidak ada lagi duit." Jawab bang Ahmad.
"Loh, bukannya dua hari yang lalu abang baru gajian?" tanyaku heran
"Iya sih, tapi kan adek tau sendiri pengeluaran kita banyak. Abang harus bayar cicilan rumah, motor, uang semester kuliah Rena, uang bulanan utk arisan ibu dan kebutuhan mereka berdua. Siapa lagi yang tanggung kalau bukan abang." Jelas bang Ahmad
"Terus, baju seragam sekolah Farid gimana, kemaren abang janji mau beli yang baru." Kasihan Farid bang, seragam sekolahnya sudah sempit. Ucapku, dengan raut wajah iba.
"Pakai saja dulu baju yang ada." Bulan depan kan bisa juga kita beli. Jawab bang Ahmad seenaknya
"Apa?,, bulan depan, gak salah dengar aku bang? tanyaku kesal
"Atau kalau enggak pakai saja dulu uang adek, nanti abang ganti." rayu bang Ahmad
"Aku tidak ada uang, selama ini yang kerja kan abang." Jawabku polos
"Masa adek tidak ada simpanan sedikitpun, setiap bulan abang kasih satu juta." Emang uangnya adek pakai buat apa? tanya bang Ahmad
"Jangan-jangan selama ini adek pakai uang satu juta buat senang-senang dibelakang abang ya, makan diluar sama teman-teman, jalan ke mall, nonton bioskop dan masih banyak lainnya" oceh bang Ahmad
Aku dari tadi tidak menjawab karena menahan amarah, dengan nafas memburu akhirnya pergi ke dapur. Niatku menenangkan diri.
Yang benar saja dia ngomong uang satu juta buat ke mall.
Sementara suamiku disana sedang senyum-senyum sambil main gawai. Entah apa yang membuatnya begitu senang. Sedikitpun dia tidak ada beban.
Emang keterluan bang Ahmad. Udah uang bulanan dikasihnya sedikit malah menyangka yang tidak-tidak lagi.
Sementara buat keluarganya buat adiknya yang kuliah, dia yang biayain, ibu ikut arisan sebulan lima ratus ribu dia yang biayain, belum termasuk kebutuhan mereka sehari-hari. Tapi aku tidak pernah mengungkit. Hati ini benar-benar sakit rasanya.
***
"Dek abang keluar sebentar ya." ucap bang Ahmad.
"Mau kemana bang?, tanyaku penasaran.
"Mau ke warung sebentar."
Jawabnya
"Ee e eh,,, yang tadinya ngaku tidak ada uang, sekarang malah mau ke warung ni" ejek ku.
Sambil melirik bang Ahmad yang matanya hampir keluar karena melotot. Aku tersenyum geli.
Bang Ahmad keluar, menghidupkan mesin motornya kemudian berangkat menuju warung.
Tinggal aku sendiri dirumah yang sedang kebingungan. Sampai akhirnya kuputuskan mengambil uang tabungan Farid untuk mengisi token listrik.
Setelah selesai bersiap-siap aku pun keluar menuju konter yang lumayan dekat dengan rumah. Kira-kira lima puluh meter jarak dari rumah, bisa di tempuh dengan berjalan kaki.
"Mau isi token listrik dek."
"Silahkan daftar dulu kak, disini." Katanya.
Sambil menyodorkan buku daftar pembelian token padaku.
Saat sedang mendaftar secara tidak sengaja aku melirik lembar sebelahnya lagi, seperti nomor hp suamiku.
Untuk meyakinkan sekali lagi ku coba tanya lagi sama tukang counter.
"Dek, ini yang di daftar pengisian pulsa nomor bang Ahmad iya?" tanyaku dengan ragu.
"Iya, kak tadi barusan bang Ahmad datang kesini, abis isiin pulsa dua ratus ribu." Katanya
"Hah,,! Dua ratus ribu?" tanyaku.
Isi pulsa sebanyak itu untuk apa?
Aku bertanya-tanya pada diri sendiri.
Karena rasa penasaran, aku melihat sekali lagi daftar pengisian pulsa di nomor bang Ahmad. Disitu tertulis jumlahnya seratus ribu. Lalu kenapa tukang counter mengatakan dua ratus ribu. Ada yg aneh ni. Perasaan ku jadi tidak enak.
Ku coba tanya sekali lagi dengan jelas, diapun menjawab memang benar bang Ahmad isi pulsa dua ratus ribu, seratus ribu untuk nomornya sendiri seratus ribu lagi untuk nomor yang tidak aku kenal.
Kutekan nomor tersebut memastikan nomor siapa sebenarnya, beberapa detik akhirnya panggilan tersambung.
("Hallo,, dengan siapa ini?") Secepat kilat kumatikan telpon.
Ternyata suara seorang perempuan.
Deg,,, tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Aliran darahku memanas di seluruh tubuh.
Kupercepat langkah pulang ke rumah. Hati ini benar-benar panas, darahku rasanya mendidih. Bisa-bisa nya dia mengisi pulsa jalang itu seratus ribu, sementara buat isi token dan beli seragam Farid saja tidak uang, keterlaluan.
Sampai depan rumah kulihat motor bang Ahmad sudah terparkir disana, artinya dia sudah pulang.
Kutarik nafas pelan-pelan dan menghembuskannya perlahan. Sebisa mungkin ku kontrol emosiku, jangan sampai kelepasan.
Aku masuk kerumah, bang Ahmad masih sibuk dengan gawainya. Melihat hal tersebut benar-benar muak rasanya. Ingin rasanya kujambak dengan keras rambut gondrongnya, kuseret keluar rumah seperti kuntilanak ngesot.
Tapi demi suatu tujuan apapun itu, untuk sekarang aku harus sabar dan pura-pura normal seperti biasanya.
"Dek, tadi keluar kemana?" tanya bang Ahmad
"Ke counter." Jawabku gak sabar
"Ngapain ke counter?" tanya bang Ahmad dengan ekspresi terkejut.
"Kenapa, sepertinya abang penasaran banget?" tanyaku
"Bukan begitu, maksud Abang bertanya kan baik, takut kenapa-kenapa sama istri Abang yang cantik."
"Apalagi sampai ada yang berniat jahat sama adek, kan abang juga yang sedih." Goda dia.
Ciihh.. Apa katanya tadi,, penjahat? Kamu kali penjahat bang, penjahat wanita.! Ingin kukatakan seperti itu.
Mendengar rayuannya benar-benar buatku muak.
"Aku tadi ke counter ngisiin token, kita keabisan pulsa listrik dari pagi tadi, bukan ngisiin pulsa hp buat telpon yayang." Jawabku geram.
Mendengar jawaban ku tadi bang Ahmad terlihat kikuk. Dia melihat ke arahku dan sedikit menunduk, kulirik matanya seperti kelilipan. Akhirnya bang ahmad memilih diam, tidak berkata apa-apa lagi. Mungkin takut salah ucap
"Dek, buatin abang kopi ya? Sekarang, gak pake lama." Tiba-tiba mengalihkan pembicaraan
"Memang abang ke warung tadi gak minum kopi, lalu ngapain Abang kesana?" Tanyaku protes
"Atau jangan-jangan abang gak ke warung lagi, tapi kemana juga ya?"
Tanyaku lagi, sengaja.
Pertanyaanku berhasil membuat wajah bang Ahmad merah padam, hampir menyerupai ketela ungu.
"Enak saja kamu bang udah salah, sekarang malah ngatur-ngatur."
Lihat saja apa yang akan aku lakukan. Bukan kamu saja yang bisa main gila, tetapi aku bakal lebih gila jika hatiku tersakiti, bisikku.
Hmm,, ini adalah saatnya pembalasan bang Ahmad tersayang. Cixixixiiiii,,,aku tertawa jahat.
Kritik dan sarannya ya banyyaaakkk ,,jangan lupa! 😆
Next

Belum ada Komentar untuk "Suami Pelit Tanda Tak Setia"
Posting Komentar