Emak Berdaster dandan, kelar hidup lu
“Hari, kenapa dari tadi dipanggil malah bengong saja?” protesku melihat Hari Puter dari tadi melamun. “Ada masalah?”
“Nggak kok, Nay. Kebetulan ada kerjaan dadakan,” sergahnya, seraya tersenyum.
“Tadi kamu ngomong apa, Nay?”
Aku menghela napas, tak biasanya Hari tulalit begini. Matanya juga terlihat kosong. Apa mungkin ada masalah yang tidak kuketahui?
“Nggak jadi, Hari. Aku nggak jadi ngomong.”
“Lho, kok...?”
“Nggak apa- apa, tidak penting.” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. “Kamu lapar, Hari? Biar aku masak dulu.”
“Lumayan sih lapar, Nyonyah. Mumun kan gembul, makannya bisa tiap jam,” celetuk Mumun yang malah menjawab.
“Mun, yang ditanya itu Pak Hari, bukan kamu,” protesku.
Mumun malah cengengesan. “ Iya, Nyonyah, maaf. Efek lapar jadi Mumun nyambar jawab tanpa ditanya."
Mumun cengengesan.
"Mumun kan pinter ya, Nyonyah. Pinter jawab, maksudnya."
“Kita beli sate saja, Nay,” usul Hari. “Nggak usah masak. Kita sekarang sedang capek. Jadi cari yang praktis.”
“Boleh, aku order online saja, biar cepat."
“Ide bagus. Boleh kalau bisa.” Hari tersenyum
Aku segera mengambil ponsel dan membuka aplikasi untuk memesan makanan online.
Hanya menunggu lima belas menit, orderan sate pun datang plus nasinya. Karena aku belum bikin nasi.
Kami bertiga pun makan, sambil sekali- kali menyuapi Ayang yang tampak gembul.
Hari makan dengan diam. Kelihatan tidak berselera. Aku mengerutkan kening. Ada apa dengan Hari? Seperti ada beban dalam pikirannya.
Hari yang kukenal biasanya ceria, easy going, tak lepas dari senyum dengan mata berbinar hangat.
Tadi masih ceria ketika sedang kerja bakti, tetapi mendadak ekspresinya berubah ketika tadi beres mengerjakan pekerjaan rumah.
Apa Hari kecapean? Mungkin juga, perjalanan menyetir jarak jauh pasti membuatnya lelah. Ditambah sampai rumahku dia malah ikut sibuk beres- beres.
Ah, kenapa aku tidak peka ya, kalau Hari mungkin lelah. Tetapi kalau dia tadi tidak nawarin ikut bantu, aku pasti tak akan menyuruhnya melakukan pekerjaan ini.
“Nay, ini sudah sore. Aku harus pulang Banyak tugas yang menanti setelah kutinggalkan kemarin. Maklumlah, Nay. Aku masih merintis kantor baru di sini,” pamit Hari sambil tersenyum samar.
“Oh ya, Hari. Aku penasaran, kamu tinggal di mana selama ini? Boleh sekali- kali aku berkunjung ke kantor dan rumahmu?”
“Tentu boleh, Nay. Nanti kita sama- sama lihat kantor yang merangkap rumahku.” Hari tersenyum lagi masih samar.
“Maksudmu, kantornya buka di rumahmu?”
“Iya, kantorku ruko. Jadi atasnya bisa di pakai tempat tinggal. Aku kan belum menikah, jadi tidak ribet harus tidur di mana. Entah, kalau nanti sudah berkeluarga.” Kali ini senyum Hari berubah lebar, sambil mengerjapkan matanya.
Ucapan Hari yang seperti asal, mampu membuatku tersipu. Samar dia menggoda dalam kata- katanya.
.
“Pak Hari, nanti kalau sudah nikah sama Nyonyah. Mumun boleh rikuest? Bikinin kolam renang ya. Tidak apa- apa mini juga, cukup buat Mumun berendam doang!” celetuk Mumun. Rupanya dia suka banget nguping pembicaraan orang.
“Mun, kalau cuma berendam doang. Cukup tuh di ember aja!” godaku.
“Ih, Nyonyah! Emangnya Mumun cucian direndam di ember?” wajah Mumun merenggut.
“Emang iya, kamu tuh lama- lama kayak cucian yang harus direndam, Mun. Terlalu banyak yang nempel di baju.”
Mumun cengengesan. “Apa tuh yang nempel di baju, Nyonyah?”
“Genitmu, tuh, Mun!”
“Ish..Nyonyah. Genit itu bawaan orok. Mumun sulit ngilangin.”
Hari terlihat senyum- senyum melihat Nanny yang dibawanya kali ini berbunyi terus.
“Aku permisi dulu, Nay. Biar pulangnya naik taksi online saja.” Hari beranjak dari duduknya. Kulihat memang sudah sangat sore. Sebentar lagi malah masuk Maghrib
“Bawa si Puput aja tuh, besok balikin.” usulku. Biar Hari bisa bawa mobilku dan bisa jemput aku lagi.
“Tidak usah. Nanti kamu perlu buat kesana- kemari, Nay,” tolak Hari halus. "Di kantorku juga ada mobil, kebetulan kemarin dipakai dulu asisten."
Hari kembali tersenyum.
Jangan sampai senyum itu hilang dari wajahnya.
**
“Naay...!”
Pagi- pagi aku dikejutkan kedatangan Wati CS, yang seperti biasa berteriak dari jalan sambil berlarian ke arah pintu rumah.
“Lha...kalian kok tahu aku sudah pulang?” tanyaku bingung dengan kedatangan mereka yang tiba- tiba.
“Ish, Nay linglung, ya. Kamu kan bikin status di WhattsApp sudah kembali ke kota ini." sahut Wati.
Oooh ya, aku tepuk jidat!
Memang aku buat status sore kemarin di WhattsApp , sekalian iklan butikku sudah buka lagi. Dan Wati pasti tahu, karena nomornya ada di list kontak. Bisa melihatnya di pembaharuan satus.
“Apa kabar, Nay?” Wati, Siti dan Maimun berebutan menyalamiku sambil.cipika- cipiki.
“Baik, Wat, Siti dan Maimun. Kangen kalian deh!"
"Kami juga kangen, Nay."
Wati CS ikutan girang bisa bertemu lagi. Aku segera ajak mereka masuk dan duduk di ruang tamu.
“Eh, itu siapa lagi, Nay?” tanya Wati keheranan, menunjuk ke arah Mumun yang sedang menemani Ayang bermain.
“The Nanny Ayang yang baru."
“Lho, Titi, kemana?” Wati mengernyitkan dahi.
“Titi pensiun,” sahutku sambil tertawa.
Wati CS tak boleh tahu, bahwa Titi itu sebetulnya Hari. Cukup aku, Mumun dan keluargaku saja yang tahu. Aku takut kalau tahu, nanti Hari jadi bulan- bulanan ledekan Wati yang terkenal iseng.
“Hallooo...kalian pasti heran padaku, ya? Namaku Honey Boney Sweety Honeymoon. Panggil saja Mumun!” seru Mumun seraya memperkenalkan diri tanpa diminta.
“Mumun? Kok namanya hampir sama dengan Maimunah,” celetuk Siti.
“Oh ya?” Mata Mumun berkedip- kedip. “Maimunah, moe maneh, moal punah, apa lagi ya, yang mirip?"
“Bisa aja!” Maimunah tertawa.
Tengah asyik ledek- ledekan, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Mobil itu sangat kukenal, Jeep keluaran baru. Dan pengendaranya yang gagah turun dari pintu kemudi.
Seketika Wati kembali heboh.
“Abang ganteng Fernandoku, duuuh..sudah berabad- abad, aku nggak lihat dia!” seru Wati kegirangan. “Kok tahu sih aku ada di sini?” Mata Wati berkedip- kedip.
Afrizal yang sudah ada di ambang pintu, tersenyum simpul mendengar teriakan Wati.
“Masuk, Afrizal. Biasalah lagi kumpul emak di sini.” Sebagai tuan rumah aku berusaha ramah menyuruh Afrizal masuk. Hatiku teramat . Kaget, karena tidak menyangka kedatangan Afrizal.
Ada apakah kok tumben?
Afrizal mengangguk. Senyum khasnya kembali tersungging manis. Setelah mengucap salam, dia duduk di ruang tamu.
“Aiiih...! Setelah sekian purnama, akhirnya Mumun melihat makhluk ganteng ciptaan Tuhan!” teriak Mumun tiba- tiba, ketika Afrizal sudah duduk. “Pangeran darimana ini yang datang berkunjung?”
Aih..., ternyata ada yang lebih heboh lagi dari Wati, yaitu Si Mumun.
Betul kata Hari, Mumun ternyata genit kalau melihat makhluk ganteng. Buktinya, dia tiba- tiba maju ke ruang tamu dengan senyuman lebar dan mata dikedip- kedipkan ke arah Afrizal .
“Kenapa matanya, Mbak?” tanya Afrizal menggoda. “Kelilipan ya?”
“Kelilipan kotoran cintamu, Bang!” seru Mumun mulai ganjen.
“Abang ganteng mau minum apa? Teh, kopi atau air putih? Seputih hatiku, Bang!” Mumun terus ngoceh.
“Hueeek...muntahan cintamu membuatku pusing tujuh keliling, Mumun!” timpal Wati.
Ampuuun....aku tepuk jidat berkali- kali. Ternyata Wati sekarang ketemu lawannya yang sama ganjennya. Seperti botol ketemu tutupnya. Cocok!
Afrizal menggeleng gelengkan kepala seraya tertawa kecil, melihat tingkah emak genit Wati dan Mumun.
“Kalian sadar nggak, bukan bikin orang melayang, tetapi pengen orang menendang!” protesku melihat tingkah absurd mereka berdua.
“Maaf, Zal. Maklumlah, baru keluar dari karantina. Udah jinak kok, meski sedikit menyebalkan," kataku sambil mengerling ke arah duo ganjen itu.
Afrizal kembali tertawa kecil.
“Ya udah, deh. Kita ke dalam aja yuk. Kita ngopi di dalam,” ajak Wati. "Daripada jadi nyamuk."
Akhirnya Wati mengerti. Afrizak mungkin ada perlu sampai bela- belain datang.
Mumun dan yang lainnya ikut masuk ke ruang tengah.
“Kok tahu aku ada di sini, Zal?" tanyaku hati- hati.
Afrizal mengembuskan napas. "Aku ke rumah orang tuamu, Nay. Kata ibumu, kamu sudah kembali ke kota ini. Bersama Hari.” Ada nada getir ketika mengucap nama Hari dalam suara Afrizal.
Aku menghela napas pelan..”Ya, ayah sudah sembuh total, jadi aku kembali ke sini.”
“Kenapa tidak tinggal saja dengan orang tuamu, Nay?”
“Kenapa, Zal? Aku merasa hidupku nyaman di sini “
“Setidaknya nanti aku tak lagi berjauhan denganmu, kalau kamu bisa tinggal dengan orang tuamu,” keluh Afrizal pelan.
Aku terdiam. Dahiku berkerut. Apa maksud perkataan Afrizal? Wajahnya nampak sedih.
“Ibu ingin aku pegang lagi perusahaan di pusat,” lirih Afrizal. “Tetapi aku tak mau."
"Aku juga menolak di jodohkan dengan orang lain selain kamu, Nay!” desahnya.
Deg!
Hatiku mencelos. Ungkapan jujur Afrizal membuat hati serasa teriris.
Ah, Afrizal. Andai kamu tahu, itu tidak mungkin.
“Zal?” panggilku ragu
“Iya?”
Afrizal menatapku dengan sorot mata penuh harap. Mungkin, dia ingin aku bisa membalas seperti apa yang diinginkannya.
“Ibumu sudah mau menjodohkanmu dengan orang lain,” ucapku hati- hati. “Turutilah keinginannya. Kenapa malah kesini?"
Afrizal terdiam. Mengambil napas panjang.
“Aku menolaknya, Nay.”
“Tetapi kenapa?" Dahiku berkerut dengan hati tidak karuan.
“Aku cuma ingin denganmu, dari dulu sampai sekarang, Nay!”
Ah! Kenapa harus jadi rumit, dan kenapa bersikeras seperti ini? Aku membatin.
Bagaimana harus menolak tanpa menyakiti hatimu, Zal?
Tak tega rasanya menolak cinta Afrizal, yang tetap setia sedari dulu. Tiga bahkan empat tahun lalu hingga kini, tak merubah hati.
Namun, menerima juga itu tidak mungkin, karena hati ini sudah milik orang lain
Aargh! Kepalaku mumet. Haruskah serumit ini?
Kenapa kamu begitu baik, Zal?
Coba kamu nyebelin kayak Udin
Kan bisa kusambit pake sendal kalau kesal
Atau kutendang sampai Afrika sana biar tidak balik sini.
Aargh!
Andai saja ada wanita lain yang jad pilihan hatimu. Sumpah! Aku pasti bahagia untukmu, Zal. Batinku.
**
Nay diombang ambingkan rasa
Cinta memang bikin rumit
Sama halnya hidup Udin yang jadi rumit.
Apa kabar dengannya?
Next..tukang kebon menyambangi ya, berganti jadi tukang cakueh versi Mumun.

Belum ada Komentar untuk "Emak Berdaster dandan, kelar hidup lu"
Posting Komentar