Biarkan Waktu Menghapus Luka
Aku menunggu dengan bosan. Sesekali menyeruput softdrink di tanganku sambil memandangi orang-orang yang asyik bergurau. Di sinilah aku, sebuah kafe bergaya retro, tempat favoritku dan Rian untuk berkencan. Sudah lima belas menit aku menunggu, sesekali melirik telepon seluler sekadar mengecek pesan yang masuk. Jika yang muncul nama orang rumah, aku mengabaikannya.
Ini sudah hari ketiga sejak aku meninggalkan rumah, tak terhitung sudah berapa kali orangtuaku mencoba menghubungi dan memintaku pulang. Aku masih bertahan dengan keputusanku. Rasa kecewa setelah mengetahui kebenaran tentang orangtuaku terlalu besar.
Malam itu, saat aku mencari kartu keluarga untuk keperluan sekolah, di bawah sana, di antara tumpukan dokumen lainnya, aku menemukan sebuah buku kecil berwarna biru. Itu adalah buku nikah Ayah dan Ibu. Aku iseng membukanya, ingin tahu seperti apa wajah mereka belasan tahun lalu. Aku terkikik ketika melihat ketampanan Ayah dan kecantikan Ibu. Namun tawaku memudar ketika aku melihat tanggal yang tertera di sana. 15 April, hanya lima bulan sebelum kelahiranku.
Dunia terasa berhenti berputar, napasku sesak. Entahlah, kurasa amarahku memuncak saat itu. Aku menghambur ke ruang keluarga. Kulihat Ayah asyik menonton berita di TV. Ibuku terkejut, “May, pelan-pelan sayang. Ada apa?” Ibuku bertanya lembut.
Aku tidak menjawab. Sebagai gantinya aku melemparkan buku kecil yang kutemukan, tepat ke hadapan mereka yang sedang duduk bersantai di sofa. Wajah Ibu pias, dengan gugup ia meraih buku kecil itu dan membalik isinya. Dia tahu aku tahu. Rahasia yang mereka tutupi terbuka sudah.
Lagi-lagi tidak ada kata yang terucap dari bibirku. Aku hanya berbalik, berlari ke kamarku di lantai dua. Membanting pintu, melemparkan tubuhku ke atas kasur dan menangis. Aku kecewa, aku marah, geram, murka. Semuanya menyatu saat itu. Bagaimana tidak, ibuku yang lembut, ayahku yang tampak alim dan menentang hubunganku dengan Rian ternyata bejat. Lima bulan, bukankah aku lahir terlalu cepat?
“May, buka pintunya, Sayang!" Ibu mengetuk pintu dan berkata lembut. “Ibu bisa jelaskan.” Kudengar ia terisak, masih mengetuk pintu. Sesekali memutar-mutar gerendel pintu. Aku tidak perduli, kututup telingaku dengan kedua tangan dan kubenamkan wajahku ke atas bantal.
“Sudahlah Bu, nanti saja kita jelaskan. Dia pasti kecewa.” Ayah membujuk Ibu. Lalu hening, mereka tidak lagi di depan pintu.
Tapi tidak pernah ada nanti. Malam itu juga aku meninggalkan rumah. Tanpa menunggu penjelasan mereka, aku kabur. Tujuanku adalah rumah Kakek dan Nenek, orangtua ibuku.
“Hai cantik, melamun aja. Sorry ya telat,” Sebuah sentuhan di bahuku membuyarkan lamunanku. Rian duduk di sampingku sambil tersenyum manis.
“Iya nih, karatan tau. Lama banget sih,” protesku.
“Sorry, tadi dosennya telat keluar. Biasalah cewek-cewek centil doyan nanya aneh-aneh biar dosennya lupa waktu.” Yang dia maksudkan pasti dosen muda ganteng yang digilai para mahasiswi. Hahahaha ternyata watak merayu dimana-mana sama. Ck, memalukan!
Oh ya, Rian mahasiswa semester dua, aku masih kelas XII SMA. Dia alumni sekolahku juga. Hubungan kami sudah berjalan selama dua tahun.
“Tumben ngajak ketemu, katanya sibuk persiapan ujian," Rian bertanya sambil berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil sekaleng minuman dingin.
“Pengen ketemu aja, nggak boleh ya?” kataku manja.
“Boleh dong, sering-sering aja, heheh.” Dia terkekeh saat aku mencubit lengannya.
“Apa ayahmu tidak melarang?” Dia bertanya setelah melepas dahaga.
“Aku nggak nginap di rumah. Sudah tiga hari aku nginap di rumah Kakek."
Rian tampak terkejut, ”Kenapa? Ada masalah?” Dia mulai serius menatapku, penuh selidik.
“Mm aku... kurasa sebaiknya kita menjaga jarak dulu," kataku dengan hati-hati. Rian semakin bingung.
“Apa maksudmu, apa aku ada salah?”
“Tidak, hanya saja aku perlu sendiri dulu. Sebentar lagi ujian. Kamu juga sedang banyak pekerjaan, kan?” kataku mencoba menjelaskan.
Rian masih tidak percaya, “Katakan ada apa, Maya. Bukankah kita memang sudah sepakat untuk tidak sering bertemu sampai kamu selesai ujian?”
“Sebenarnya ada masalah dengan orang tuaku. Tapi aku tidak bisa cerita," kataku.
“Kenapa tidak bisa? Apa kau menganggapku orang lain?”
“Maaf, ini aib. Aku tidak bisa cerita," Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Bagaimanapun juga, Rian hanya pacar. Aku marah pada orang tuaku bukan berarti aku suka membuka aib mereka.
“Baiklah, aku tidak akan memaksa.”
Inilah yang aku suka darinya, tidak pernah memaksaku melakukan sesuatu. Kami jarang bertemu, komunikasi kami lebih banyak lewat ponsel. Jika pun bertemu, kami tidak pernah di tempat sepi.
Gaya pacaran kami tidak aneh-aneh. Sejauh ini sentuhan fisik hanya sebatas gandengan tangan. Aku selalu membanggakan pada teman-temanku bahwa pacarku cowok langka. Zaman sekarang sulit menemukan laki-laki yang bisa mengontrol tangannya untuk tidak mendarat di sembarang bagian tubuhmu. Tapi orang tuaku tidak mau tahu. Bagi mereka hanya ada satu kata untuk pacaran, haram. Itulah sebabnya aku benar-benar murka mengetahui bahwa aku terlahir dari hubungan yang hina.
Menjelang magrib aku pulang ke rumah Kakek. Aku ingin memutar mobilku ketika melihat mobil Ayah terparkir di halaman. Terlambat, Tante Dewi memergokiku. Adik bungsu ibuku ini memaksaku masuk menemui orangtuaku.
Di ruang keluarga aku melihat ibuku sesenggukan di pelukan Nenek. Aku tidak perduli, aku langsung masuk kamar dan mengunci pintu. Aku menolak bertemu mereka, bahkan melewatkan makan malam.
Ada alasan mengapa aku bersikeras menolak bertemu. Aku yakin tidak akan bisa menahan emosiku. Aku pasti akan berteriak di wajah mereka, sesuatu yang tidak pernah kulakukan. Dulu aku bangga pada mereka, mereka mendidikku dengan baik. Tapi saat ini, bagiku kedua orangtuaku tidak lebih dari sepasang pendusta dan munafik. Menyembunyikan borok mereka dengan pakaian takwa. Sungguh menjijikkan!
Terdengar suara ketukan di pintu. “Maya, boleh Tante masuk? Orang tuamu sudah pulang.”
Aku berdiri dan membuka pintu. Tante Dewi menuntunku kembali ke atas tempat tidur. Aku meletakkan kepalaku di atas pangkuannya, air mataku jatuh membasahi gamisnya.
Sambil membelai rambut panjangku dia mulai bersuara, “Tante paham apa yang kamu rasakan. Tapi menutup komunikasi bukan solusi yang tepat. Bagaimanapun juga mereka orang tuamu.”
“Tapi mereka ber- mereka berz**ah, Tante," Sakit sekali rasanya aku mengucapkan kalimat ini. Seperti ditusuk ribuan jarum, perih. Seperti dilempari setumpuk kotoran, malu.
“Boleh Tante bercerita?” Aku mengangguk pelan.
“Ibumu harusnya menjadi dokter. Seperti kamu, ia adalah kebanggan orangtua.” Tante Dewi diam sejenak, ia menghela napas. Sepertinya cerita ini juga berat baginya.
“Hubungan mereka dimulai saat mereka kuliah semester dua. Seperti kamu dan Rian, hubungan mereka tampak wajar. Bedanya kakek dan nenekmu tidak keberatan, karena ayahmu berasal dari keluarga terpandang dan mereka sangat yakin ibumu bisa menjaga kehormatannya.”
Aku jadi teringat Rian. Meskipun kami tidak melampaui batas, Ayah sudah menentang kami sejak awal. Tidak ada cara meyakinkan Ayah. Baginya haram tetaplah haram, tidak ada kompromi. Katanya pacaran adalah jalan menuju zinah, jangan pernah mendekatinya. Aku tanpa sadar menggemeretakkan gigiku. Saat mereka melarangku mendekati jalan itu, mereka justru lebih dulu menapakinya, lalu kembali dengan pakaian yang terkoyak.
“Tante tahu kamu merasa ini tidak adil, kan? Kamu pasti merasa buruk tentang mereka.”
“Bukan hanya buruk Tante, Maya merasa jijik dan malu," Aku akhirnya mengatakannya tanpa ragu.
“Tante tahu. Tapi apa kamu tahu dosa yang tidak akan diampuni Allah? Syirik, menyekutukan Allah. Meninggal dalam keadaan musyrik membuatmu kekal di neraka. Tapi z*nah, meski ia dosa besar, tapi selama kamu masih punya iman, pintu surga akan terbuka setelah kamu mencicipi panasnya neraka.”
Aku tahu ini semua. Ayah bukanlah penceramah yang buruk.
Tante Dewi kembali melanjutkan ceritanya, “Waktu keluarga tahu ibumu hamil, semua orang shock. Kakek mengamuk, Nenek berhari-hari kehilangan selera makan. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Demi menutupi malu ayahmu harus bertanggung jawab. Tapi…,” Tante Dewi diam. Aku penasaran.
“Tapi apa, Tante?”
“Ayahmu di usir oleh orangtuanya.” Aku baru tahu ini, pantas saja keluarga Ayah jarang berkunjung.
“Ayahmu sudah dijodohkan dengan anak rekan bisnis ayahnya. Siapa yang tidak ingin punya menantu anak orang kaya dan terpandang? Kehamilan ibumu merusak semuanya. Keluarga kita dihina. Ibumu dianggap wanita penggoda. Dia dipaksa menggugurkan kandungannya. Tapi ibumu menolak, keluarga kita menolak. Membunuh hanyalah menambah dosa.” Oh, jadi keluarga Ayah tidak ingin aku lahir.
“Pernikahan mereka tidak dihadiri keluarganya. Ayahmu tak lagi dianggap bagian dari keluarga. Perlahan ayahmu bangkit dan menjadi pengusaha sukses.”
Ya, ayahku salah satu pengusaha sukses di kotaku. Dan aku anak tunggal. Bukankah menggiurkan menjadi penguasa harta orangtuaku? Tapi aku lahir dari hubungan yang kotor. Aku tidak berhak mewarisi harta ayahku. Ironis, bukan? Kesalahan mereka membuatku kehilangan hakku yang berharga. Aku tidak bernasab pada ayahku, aku tidak berhak menyandang namanya di belakang namaku, dan yang paling menyesakkan adalah ayahku tidak bisa menjadi waliku saat menikah kelak. Mereka yang berbuat tapi aku yang terkena imbasnya. Pernahkah mereka memikirkan hal ini sebelum berbuat? Ah aku lupa, saat syaithon ikut bermain, maka tak ada waktu untuk berpikir.
“Kamu tahu siapa Rian?” Pertanyaan Tante Dewi membuatku terkejut. Tentu saja aku tahu siapa pacarku. Aku refleks bangun dan duduk menatapnya.
“Maksud Tante?”
“Dosa bukan satu-satunya alasan ayahmu menentang hubungan kalian. Ayahmu tidak ingin mengoyak luka lama, tidak ada yang ingin anaknya direndahkan.” Aku semakin tidak mengerti.
“Ayah Rian adalah kakak kandung dari wanita yang dijodohkan dengan ayahmu. Meneruskan hubungan kalian sama saja membuka aib.”
Samar-samar aku mengingat ekspresi Ayah saat pertama kali mengenal Rian.
“Tidak ada orang yang tidak pernah berbuat salah. Tapi sebaik-baiknya orang yang berbuat salah adalah yang menyadarinya dan berusaha untuk tidak mengulanginya. Orang tuamu melakukan itu. Mereka ingin memastikan agar kejadian serupa tidak terjadi padamu.”
***
Dear Rian,
Lelaki terbaik yang pernah kutemui. Terima kasih untuk semua ketulusan kamu. Terima kasih telah menjadi sumber semangat di saat terpurukku. Terima kasih telah menjagaku selama dua tahun ini. Terima kasih untuk semua mimpi yang kau gantungkan untukku.
Tapi maaf, aku tidak bisa menyertaimu meraih semua mimpi itu. Saat aku harus memilih antara orang tua atau cinta, bagiku itu bukan pilihan. Tapi keharusan, sebuah pengabdian.
Maaf jika hubungan kita harus berakhir di sini. Tolong maafkan jika aku punya salah. Aku hanyalah anak manusia yang tak sempurna. Dan aku takut terus-menerus melakukan dosa yang kita anggap biasa.
Berbahagialah, Rian. Kamu pasti bisa menemukan yang jauh lebih baik.
Aku yang harus kau lupakan,
Maya
Kuseka bulir bening di pipiku saat ku letakkan kertas itu di atas buku dan barang-barang pemberian Rian lainnya. Tak ingin kusimpan satu pun yang akan membuatku sulit untuk melupakannya. Rian akan jadi masa laluku.
Aku turun dari kamarku dan menemui kurir yang sudah kupesan.
“Antar ke alamat ini ya, Pak!" Kulepas kotak itu, berharap kenangan indah bersama Rian ikut pergi. Aku berbalik masuk ke rumah, menemukan Ibu yang tengah menatapku.
“Maafkan kami, Sayang.” katanya memelukku.
Aku kembali ke rumah ini, tempatku dibesarkan dengan limpahan kasih yang tak terhingga. Pulang ke pangkuan ayah ibuku. Biarlah waktu mengobati semua luka.
“Berjanjilah, kamu tidak akan mengulang kesalahan kami!” Kuangkat kepalaku dan tersenyum.
“Maya janji.”
Mohon krisannya

Belum ada Komentar untuk "Biarkan Waktu Menghapus Luka"
Posting Komentar