Ibu Mertuaku Cantik

Sekitar pukul setengah tujuh pagi, Anton sudah duduk dengan mas Danish di ruang makan. Dia bilang, sengaja datang lebih awal karena ingin ikut sarapan. Kedekatannya dengan mas Danish, juga membuatnya dekat dengan keluarga ini. Itu sebabnya dia tidak canggung saat datang ke rumah.


Selesai sarapan, kami bersiap untuk menuju ke perkebunan menggunakan mobil Ayah. Setengah jam berlalu Ayah melajukan mobilnya, sampai kemudian memasuki sebuah perkebunan yang cukup luas dengan berbagai jenis tanaman buah Tin. 


Sebelum turun, aku sempat terbayang wajah almarhum Bapak yang dulu juga bekerja di sini. Apa lagi saat melihat beberapa orang yang mulai bersiap untuk bekerja. Seolah, aku pun melihat Bapak ada di antara mereka.


Aku turun dari mobil saat seorang tukang kebun datang menghampiri kami, dan memperkenalkan diri sebagai Pak Rahmat. Lalu mengajak kami untuk berkeliling. Sementara Ayah menemui tukang kebun yang lain untuk membicarakan lebih jauh tentang perkebunan ini.


Pak Rahmat menjelaskan satu persatu jenis pohon buah tin yang ada di perkebunan ini. Mulai dari Green Yorden, Brown Turkey, dan Red Palestine. Tapi yang paling banyak ditanam adalah jenis Green Yorden. Alasannya karena lebih produktif, mudah beradaptasi dengan iklim di negri ini, serta lebih cepat berbuah.


"Sebagian ada yang ditaruh dalam green house," jelas pak Rahmat.


Pak Rahmat lalu meminta kami untuk mengikutinya, menuju sebuah bangunan yang terbuat dari plastik UV. Di tempat ini terdapat banyak sekali pohon tin yang masih kecil. Kata Pak Rahmat, pohon buah tin yang masih kecil tidak bisa bertahan hidup jika terkena paparan sinar matahari secara langsung. 


Apa lagi saat musim hujan. Pohon-pohon itu akan cepat mati jika tersiram oleh air hujan secara langsung. Jika terpaksa terkena air hujan, pohon itu pun harus disiram dengan air yang bersih untuk membilasnya. Itu sebabnya, pohon-pohon yang masih kecil diletakkan di dalam green house.


Setelah melihat pohon-pohon kecil yang terletak di green house, Pak Rahmat kembali mengajak kami untuk berkeliling. Menunjukkan beberapa pohon buah tin jenis lain dari yang telah disebutkan. Jumlahnya hanya sedikit, karena pohon-pohon ini hanya sebagai pelengkap dari koleksi milik Ayah.


"Pak Rahmat, buah Tin ini cantik sekali, apa namanya?" tanyaku sambil mengagumi keindahan buah tin dengan kombinasi kulit belang-belang yang masih menempel di pohon.


"Ohh, ini namanya Panache Tiger," jelas Pak Rahmat.


"Secantik apa pun buah Tin itu, masih tetap cantik kamu kok, Dhe," ucap Anton menimpali.


"Ekheemmm." 


Mas Danish tiba-tiba berdeham sambil membuang muka.


Setelah mencicipi beberapa jenis buah syurga ini, kami kemudian menuju ke bawah pohon mangga yang sengaja ditanam di pinggir perkebunan, agar tak terlalu panas. Pohon mangga ini pun buahnya cukup besar jika dibandingkan dengan jenis mangga lain. Kata Pak Rahmat, jenis buah mangga ini namanya 'Khiojay.'


Saat kami berteduh di bawah pohon mangga, Pak Rahmat kembali menerangkan proses penjualan buah Tin. Katanya, ada beberapa konsumen yang sengaja datang setiap dua hari sekali ke kebun ini. Namun dikarenakan buah Tin tak mampu bertahan lama, maka penjualannya tak bisa menjangkau jarak jauh. Kecuali jika sudah diolah menjadi manisan.


Selain buahnya yang bisa diolah menjadi manisan, ternyata daun tin juga bisa di olah menjadi teh. Namun sayang, buah dengan banyak manfaat ini, masih jarang ditemui di beberapa daerah.


Aku ingat cerita Maya, Ayah sebelumnya membudidayakan pohon anggur. Namun karena Ibu sangat menyukai buah Tin, akhirnya lima tahun lalu Ayah mengganti sebagian tanaman kebunnya dengan pohon tin. 


Pantaslah jika Ibu selalu terlihat cantik, karena selain melakukan perawatan, Ibu juga rajin mengkonsumsi buah tin. Buah ini mampu merawat kulit agar tetap cantik, dari dalam.


*** 


"Kak Anton bisa masak, gak?" tanya Maya saat kami baru sampai di sebuah gubuk kecil yang biasa digunakan untuk beristirahat oleh para pekerja.


Aku, Maya, dan Anton duduk agak menggerombol. Sementara mas Danish duduk di samping Ibu.


"Bisa dong, masa santri gak bisa masak," jawab Anton percaya diri. "Makanya, besok kalo kak Anton yang ganteng ini menikah dengan Dhe Atifa yang cantik, kak Anton akan membantu pekerjaan dapur. Kalau perlu, Kakak yang ngerjain semua pekerjaan rumah deh. Kan emang kewajiban Kakak sebagai suami," sambungnya sambil melirik ke arahku.


Kami bertiga kemudian larut dalam sebuah perbincangan yang diselingi tawa. Aku dan Anton saling bertukar cerita tentang pengalaman saat di pondok. Anton bercerita tentang kegiatannya mengaji yang dimulai dari bakda subuh sampai bakda Isya. Dia juga bercerita kebiasaannya yang bangun di sepertiga malam untuk melanyahkan hapalan, karena saat pagi hari harus sekolah. Alhasil, sering mengantuk saat malam harus mengaji sampai jam sembilan.


Aku mengulum senyum mendengar cerita Anton. Aku pun sebenarnya sering mengantuk saat mengaji, tapi aku tidak mau bercerita. Malu. Sampai sekarang suka ketawa sendiri kalau membuka kitab, banyak bagian yang kosong tanpa makna karena sering tertidur. Bahkan, ada beberapa lembar kitab yang terdapat coretan pulpen di sana.


Kalau bicara masalah tidur dengan posisi duduk, sudah dapat dipastikan. Santri lah juaranya. Anehnya, saat Pak kyai dan santri lain membaca doa selesai mengaji, tiba-tiba mata langsung segar kembali.


Aku ingat kata pak Kyai, jika tak sengaja tertidur saat mengaji, maka sebenarnya dia sedang merasakan angin syurga yang berhembus. Lain arti jika memang sengaja tidur. 


"Pasti Mas Anton langganan dihukum ya, kalo di pondok?" godaku.


"Haha, ya gak langganan juga kali, cuma sering. Dulu pas hari minggu, Mas pernah diguyur sama Pak Kyai gara-gara gak salat subuh berjamaah. Terus di lain waktu pernah juga, udah waktunya ngaji bakda subuh tapi masih tidur, alhasil diguyur lagi." 


Aku dan Maya terkekeh mendengar cerita dari Anton. Aku membayangkan bagaimana reaksi Anton yang gelagapan saat diguyur oleh Pak Kyai. Mungkin rasanya seperti waktu aku tenggelam.


Aku ingat saat di pondok, jika ada mbak santri yang telat ngaji bakda subuh, hukumannya adalah membaca sholawat sebanyak seribu kali. Jika ada santri yang pulang tanpa izin, maka hukumannya membaca al-barzanji ataupun tahlil di masjid. Saat melakukan hukuman itu, mbak santri dan kang santri banyak yang menyaksikannnya sambil sesekali bersorak menggoda.


"Parahnya, Mas punya temen yang ketahuan pacaran sama santriwati, terus dia dikalungin panci disuruh muterin halaman pondok." 


Anton tertawa renyah, menampakkan giginya yang berbaris dengan rapi.


"Temen apa kamu, Ton?" tanya Ibu ikut menimpali.


"Temen lah Tant, aku mana pernah pacaran." Anton terlihat memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah Ibu.


"Kenapa gak pernah pacaran, Kak? Dosa, ya?" tanya Maya polos.


"Bukan May, sebenarnya sih, Kakak juga pengen pacaran."


"Terus, Kakak pengen menjaga hati, gitu?"


"Bukan, tapi ..., gak ada yang mau jadi pacar Kakak."


Sontak, aku dan Maya tertawa, sementara Ibu hanya menggelengkan kepala saat melihat Anton menjawab dengan wajah yang memelas. Anton memang selalu bisa mencairkan suasana.


"Ohh iya, Dhe Atifa, kalau menikah pengen punya suami seperti apa?" tanya Anton tiba-tiba.


"Emmm ...." 


Aku melirik ke arah mas Danish. Sementara mas Danish membuang muka saat menyadari aku melihat ke arahnya.


"Mas Anton pasti masuk kriteria ya, Dhe? Tenang ajah, Mas udah ngerti dan paham banget kok, kewajiban seorang suami." 


Belum juga aku menjawab, Anton sudah mengambil kesimpulan sendiri sambil membetulkan kerah kemejanya. 


"Haha, coba sebutkan apa saja, Mas," pancingku. 


Mungkin ini bisa jadi kesempatan untuk menyindir mas Danish. Biar dia tahu, bagaimana seharusnya dia bersikap pada istrinya.


"Banyak sih Dhe, tapi yang pasti Mas akan memberikan nafkah lahir dan nafkah bathin untuk Dhe Atifa."


Aku dan Maya mendengarkan penjelasan Anton tentang kewajiban-kewajiban seorang suami. Walaupun sebenarnya, aku sudah tahu.


Dia menjelaskan bahwa dia akan menjadi suami yang bertanggung jawab dengan memberikan bimbingan agama yangvtelah dia peroleh. Dia akan menjaga serta mengayomiku dengan baik. Selain itu, dia juga akan meniru Nabi dalam memperlakukanku. Seperti memberikan perlakuan yang romantis, berbicara dengan penuh kelembutan, memberikan panggilan khusus seperti Nabi memanggil Humaira pada Sayyidati Aisyah, sering memberi hadiah, serta memanjakan.


"Yang pasti Mas akan selalu ridho dengan sampean Dhe, jadi Mas akan selalu meredam amarah untukmu," jelas Anton panjang lebar memberikan jawaban yang lebih dari cukup dari apa yang kuinginkan.


"Benarkah, Mas?" tanyaku yang dijawab dengan anggukan mantap oleh Anton.


"So sweet banget sih, Kak Anton," ucap Maya menimpali.


"Iya, dong. Pada dasarnya kewajiban seorang suami itu banyak sekali. Mungkin, yang bukan kewajiban suami hanya menyusui anak-anaknya saja, hehe."


"Ahh, pacarku tahu gak ya soal begituan?" Maya mengerucutkan bibirnya.


Sementara mas Danish, dia terlihat tidak senang dengan penjelasan dari sahabatnya. Mungkin dia merasa tersinggung dengan ucapan Anton. Apa mungkin dia menyadari, betapa selama ini telah begitu kasar padaku?


"Sabar ya, Sayang." 


Ibu terlihat mengusap bahu mas Danish dengan lembut. Entah apa maksudnya. Mungkin Ibu tahu, mas Danish mulai merasa bosan menunggu Ayah yang masih berbincang-bincang dengan para pekerja.


"Sabar apa sih, Bu? Aneh," jawab mas Danish dengan wajah kesal.


Mas Danish meninggalkan kami tepat saat ponselnya berdering. Dari kejauhan, aku memperhatikannya yang sedang asyik melakukan panggilan video dengan seseorang. Sesekali dia tampak tersenyum dengan mata yang berbinar. 


Melihat mas Danish tersenyum manis di depan layar ponsel, ada rasa perih yang tiba-tiba menyapa hati. Aku tidak yakin jika ini cemburu. Hanya saja, mungkin mirip dengan itu.


*** ayok baca di k-b-m a-p-p dengan judul yang sama. Di sana udah selesai, jadi gak kelamaan nunggu post di sini ***


Setelah materi kuliah selesai, aku dan Indah bergegas untuk menuju kantin. Rasanya lapar sekali setelah sedikit menguras pikiran. Namun saat keluar kelas, aku dikejutkan dengan sosok mas Danish yang sedang duduk. Dia menatap ke arahku, lalu memberi isyarat untuk mendekatinya. 


"Ada apa, Mas?" tanyaku dengan suara yang sedikit lirih.


"Oma nyuruh kita ke rumahnya," jawab mas Danish tanpa melihat ke arahku.


"Sekarang?"


"Tahun depan! Ya sekarang, lah."


"Isshhh, gitu ajah marah. Sama siapa kesananya, Mas?"


"Gak usah banyak tanya!"


Aku membuang nafas kasar mendengarkan ucapan mas Danish. Tidak di rumah, tidak di luar, sama saja. Sama-sama kasar.


Aku menghampiri Indah lalu meminta maaf padanya karena tak bisa menemani ke kantin. Lalu sedikit berlari mengikuti langkah mas Danish yang panjang.


"Mas, aku naik apa?" tanyaku dengan napas yang terengah-engah.


"Jalan kaki!" 


Mataku membulat mendengar jawaban mas Dinish.


Jahat sekali, kenapa tak mengajakku untuk naik motor bersamanya? Apa dia takut mbak Nelly akan melihat kami? Menyebalkan.


"Cepat, naik!" ucap mas Danish tiba-tiba.


"Naik, kemana?"


"Ke langit! Naik motor, lah."


Entah kenapa, hatiku selalu merasa dongkol saat berbicara dengan mas Danish. 


Tinggal bilang saja untuk membonceng di belakang, apa susahnya? Apa dia tidak sudi jika aku duduk di motornya? Berbeda sekali dengan mas Dosen yang selalu membuat hati berbunga-bunga saat berbicara dengannya. Pembawaannya yang tenang, selalu berhasil membuat hati mengaguminya.


Beberapa menit berlalu setelah meninggalkan kampus, langit terlihat begitu mendung. Namun mas Danish terus melajukan motornya melewati jalanan yang cukup ramai. 


Ini adalah pertama kalinya aku berboncengan dengan mas Danish. Ada sedikit debaran-debaran yang menyapa hati, meski tanpa kata. Seperti dia, yang juga tanpa kata meski kami begitu dekat.


Sampai ketika hujan mulai turun, mas Danish menepikan motornya di depan sebuah toko yang tutup. Aku turun dari motor lalu duduk di sebuah kursi panjang.


"Sial, pake hujan lagi," umpat mas Danish sambil membuka helmnya. Lalu duduk di kursi dengan jarak yang agak jauh denganku.


"Ngapain lihat-lihat? Jangan harap aku akan meminjamkan jaket, ya!"


Seketika aku membuang muka saat tertangkap basah sedang menatap ke arah mas Danish. Tapi, jilbabku memang sedikit basah karena hujan, sih.


Aku membuka tas lalu mengambil jaket milik mas Dosen yang kemarin sempat dia pinjamkan. Sebenarnya, hari ini akan kukembalikan. Tapi karena mas Dosen ada keperluan mendadak, dia membatalkan acara makan siang bersamaku.


"Jaket siapa?" tanya mas Danish saat melihatku memakai jaket laki-laki berwarna biru dongker.


"Jaketnya Mas Firman," jawabku sambil memasang ritsleting.


"Mas? Maksudmu Pak Firman?"


"Iya, dia memintaku untuk memanggilnya Mas."


"Dasar playgirl, semua saja dipanggil Mas!"


Aku tak lagi mendengarkan umpatan-umpatan yang mas Danish lontarkan. Kalau terlalu lama di dekatnya, lama-lama aku bisa darah tinggi dibuatnya.


Lagi pula, apa masalahnya kalau aku memanggil Mas pada dosen tampan itu? Seharusnya hal itu tak berpengaruh apa-apa untuk mas Danish. 


Aku meninggalkan mas Danish yang masih terlihat kesal. Mungkin karena hujan membuatnya harus terjebak di tempat ini dengan gadis yang dia benci.


Aku melenggang menuju sebuah warung bakso yang terletak di sebelah tempat kami berteduh. Rasa lapar karena tadi tak sempat ke kantin, sekarang membuat perutku terasa perih.


"Heh, mau kemana?"


"Aku lapar!" jawabku sedikit berteriak sambil mendekati ibu-ibu penjual bakso.


Tak lama setelah aku duduk di sebuah kursi yang menghadap ke jalan, mas Danish mendekat. Dia duduk di sebelahku setelah sebelumnya memesan bakso. Dia bersedia duduk di sebelahku karena tak ada lagi kursi yang kosong.


Detik kemudian, aku dan mas Danish menikmati bakso yang masih hangat dengan lahap. Cacing-cacing di perut ini seakan bersorak saat suapan bakso pertama, menyapa mereka.


Aku sedikit melirik ke arah mas Danish yang terlihat sangat menikmati bakso di hadapnnya. Mungkin jika aku yang mengikuti mas Danish untuk memesan bakso, dia akan membentakku.


***


Setelah hujan sedikit reda, mas Danish kembali melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Menembus gerimis yang masih asyik berebut menjamah bumi satu persatu. Dengan ritme yang indah, rintik-rintik itu jatuh beramai-ramai.


Aku ingat saat mengaji, Pak Kyai pernah menjabarkan tentang waktu yang mustajab untuk berdoa. Salah satunya ialah saat turun hujan. Kata beliau, manusia adalah makhluk organik yang tercipta dari tanah, dan tanah akan subur dengan air hujan.


Itu sebabnya, aku selalu suka dengan hujan. Bahkan jika tadi mas Danish tak menepikan motornya untuk berteduh, aku akan sangat senang. Tapi repot juga sih, kalau kami ke rumah Oma dalam keadaan basah kuyup.


Setelah melewati jarak sekitar dua ratus meter, mas Danish mengurangi kecepatan laju motornya. Lalu berhenti di depan penjual buah. Dia menyuruh istri kucelnya ini turun, membeli buah tangan untuk Oma. Tentu saja memakai uang jajanku. Tadi saja, aku yang harus membayar bakso. Dia bilang, uang jajannya sudah menipis.


"Heh, itu bukannya Mas Firmanmu?" tanya mas Danish sambil menjulurkan jari telunjuknya saat aku sudah selesai membeli buah. 


Refleks, aku melihat ke arah yang mas Danish tunjuk.


Beberapa detik, waktu terasa berhenti berputar saat aku melihat mas Dosen duduk di depan mobil bersama seorang wanita. Dia tampak tersenyum dengan binar mata yang terpancar saat menatap wanita di sampingnya. Jika tadi hanya langit yang mendung, sekarang hatiku pun menjadi mendung.


Apa ini alasan kenapa mas Dosen membatalkan janjinya denganku? Jika itu benar, wanita cantik yang di sebelahnya pasti sangat berarti.


"Siapa gadis cantik yang bersamanya? Kok, seperti mesra sekali."


Aku tak menjawab pertanyaan mas Danish yang lebih terkesan seperti sengaja membakar hati.


"Jalan, Mas," ucapku dengan suara lemah.


Mas Danish melajukan motornya melewati tempat mas Dosen dan wanita itu berada, tapi aku membuang muka ke arah berbeda. Rasanya tak sanggup jika harus melihat kebersamaan mereka lebih lama. Sebenarnya, aku ingin berbaik sangka dengan berpikir wanita itu saudaranya mas Dosen. Namun melihat caranya merangkul pundak wanita itu, rasanya tidak mungkin.

Belum ada Komentar untuk "Ibu Mertuaku Cantik "

Posting Komentar